CHALLENGE

“A leader is one who dares to take the plunge, while others hesistates”.

Seorang pemimpin adalah orang yang terus berusaha naik, sementara orang lain menyerah.

(Anonim)

Published in: on December 15, 2009 at 7:39 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , ,

MENCERDASKAN BANGSA !!!

Kenapa bangsa kita perlu cerdas?

Beberapa realita yang membuat kita gemas karena ketidakcerdasan (baca: kebodohan) kita adalah ketika:

  • Berbagai suku bangsa dan kerajaan-kerajaan di negeri kita dahulu diadu domba (politik devide et impera) oleh penjajah Belanda (VOC/Kompeni);
  • Beratus-ratus tahun hasil bumi kita (rempah-rempah) dibawa secara bergelombang oleh beratus-ratus (mungkin ribuan) kapal bangsa-bangsa Eropa ke negeri mereka, sementara hanya segelintir bangsa kita yang menikmatinya dengan sebagian besar tetap sengsara (dan maaf bodoh) ;
  • Bertahun-tahun IMF mendikte pemerintah kita agar tetap tidak mampu mandiri dan menjadi tuan di negerinya sendiri;
  • Perut bumi Irian/Papua dirobek lalu isinya yang berharga dibawa pergi keluar Indonesia (Amerika Serikat) dengan keuntungan yang melimpah untuk tujuh keturunan mereka, dengan hanya menyisakan sedikit dan memberikan ‘tips’ (uang kecil/receh) kepada pemerintah kita;
  • Pengiriman berjuta-juta TKI selama bertahun-tahun sebagai PRT (maaf tidak cerdas dan status tidak terhormat) di negara lain yang kemudian berakibat pada pelecehan terhadap bangsa kita secara keseluruhan.
  • Banyak orang-orang ‘cerdas’ kita (BATAN, BPPT, IPTN/DI, Garuda, sampai dengan sekarang yang terjadi terhadap Juara-Juara Olimpiade IPA) dibajak negara lain dan meraih sukses di sana memberikan devisa lebih bagi negara tersebut.
  • Kegagalan pemerintah kita bernegosiasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk memperoleh fasilitas terbaik bagi jemaah haji kita di Mekkah, Madinah dan sekitarnya. Padahal kita negara penyumbang jemaah haji terbesar (baca: devisa terbesar) bagi pemerintah Arab Saudi, namun kenyataannya fasilitas jemaah haji negara lain justru yang jauh lebih baik. Hal ini diperparah oleh pengelolaan haji kita yang cenderung masih ‘bobrok’ karena ulah oknum-oknum tertentu yang harus dibasmi
  • ‘Batik’, lagu ‘Rasa Sayange’, tari ‘Pendet’ yang jelas-jelas merupakan warisan budaya (heritage) Indonesia telah diakui oleh Malaysia sebagai milik mereka. Tapi syukurlah hal ini kemudian telah membangunkan bangsa kita dari keterlenaan dan tidur panjangnya untuk segera bersatu bahu-membahu menghadapi ‘musuh bersama’ (Malaysia, mungkin juga yang lainnya).

Apabila hal ini terus berlanjut, maka bangsa kita akan semakin terpuruk dan terus dilecehkan bangsa-bangsa lain !!!

Siapa yang bertanggung jawab?

Tidak konstruktif untuk dibicarakan.

Siapa yang berperan mencerdaskan bangsa kita?

  1. Pemerintah yang bersih
  2. Pemimpin yang bersih
  3. Aparat Pemerintah yang bersih
  4. Tenaga Ahli (orang cerdas) yang bersih
  5. Tokoh Agama yang bersih
  6. Orangtua yang bersih

Apa strategi yang digunakan?

  1. Berorientasi jangka panjang dan fokus pada generasi muda an
  2. Jadilah ‘role model’ yang teladan

Sungguh masih berat tugas kita menjaga warisan nenek moyang kita berupa negara kepulauan dengan berbagai suku bangsa (multi etnis) dan multi agama ini !!!

PEMIMPIN BERJIWA KSATRIA

Suksesi Soekarno ke Soeharto

Sikap ksatria dapat diukur dari sejauh mana ia rela mengorbankan kepentingan diri sendiri, keluarga dan golongannya demi kepentingan masyarakat yang luas. Sikap ksatria juga dapat diukur dari sejauh mana ia memikirkan dan menomor-satukan kepentingan masyarakat melampaui kepentingan diri sendiri.

Pemimpin yang mempunyai sikap dan jiwa ksatria kini makin langka. Pemimpin di negeri ini sekarang tidak segan-segan mengutamakan kepentingan sendiri, keluarga dan golongannya, tanpa rasa risi. Bahkan ia dapat melakukan semua itu dengan dalih mempertahankan dan membela kebenaran. Oleh karena itu, di negeri ini sekarang terjadi perpecahan antar umat beragama, antar aliran agama, antar kampung dan warga, antar partai politik dan bahkan antar aparat keamanan. Pesimisme menghinggapi masyarakat Indonesia saat ini. Mereka menunggu dan mencari pemimpin yang dapat menjadi pengayom dan pejuang harkat hidup masyarakat yang telah tersungkur di batas titik nadir. Sungguh sangat memprihatinkan. Sepertinya sulit untuk mencari pemimpin yang kita idamkan.

Bung Karno telah membuktikan diri sebagai ksatria yang pernah dimiliki bangsa ini. Di tengah konflik antar kekuatan politik dan militer di tahun 1965, Bung Karno memilih menanggung segala kekerasan politis, psikologis, bahkan fisik yang menimpa dirinya seorang diri. Dia lebih mencintai kehidupan seluruh bangsa Indonesia daripada dirinya sendiri. Sebagai pemimpin kharismatik, tentu Bung Karno memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa yang mendukung atau bersimpati kepadanya untuk melawan kekuatan politik dan militer yang menghimpitnya.

Namun, Bung Karno benar-benar memilih menanggung segala kekerasan yang menimpanya seorang diri, bahkan sampai ia wafatdalam kesendirian yang sangat sepi. Bung Karno adalah pemimpin ksatria. Dia tidak ingin mengorbankan kesatuan bangsa Indonesia hanya untuk ambisi pribadi. Dia tidak ingin bangsa Indonesia terpecah belah karena sebagian dari rakyat Indonesia yang mendukung dan bersimpati kepadanya berhadap-hadapan dengan sebagian dari rakyat Indonesia yang melawannya.

(Sumber: Soekarno di Mata Bangsanya, Galang Press)

Published in: on December 1, 2009 at 11:06 am  Leave a Comment  
Tags: , , , ,