Aku Sedih Sekali Ayah…

Kondisi ‘Koma’

Dalam keadaan engkau sakit tak sadarkan diri (koma) begini, ingin rasanya aku memandang wajahmu terus, memandang semua yang telah begitu lekat dalam hidupku sehari-hari. Tadi aku begitu rindu ingin melihat kerut tangannya yang khas, kubelai… sampai tak terasa pikiranku melayang ke masa lalu ketika ia masih sehat sebelum sakit sekarang. Aku jadi sangat sedih tak terkira. Kubayangkan bila suatu ketika aku tak dapat lagi memegang tangannya seperti saat ini. Ada dorongan untuk terus mengamati ayah yang terbaring dalam tak berdaya itu. Aku rindu ayah… belum cukup bagiku membuatmu bahagia ayah… Belum terbayar usahamu ayah… Aku ingin lebih dari itu, aku ingin berbakti ayah… Aku ingin engkau betul-betul merasakan hasil jerih payahmu yang keras dan tulus itu ayah… Engkau wariskan sifat-sifat itu padaku ayah… Bukankah engkau ingin melihat hasilnya ayah… Tak kusangka sakit engkau akan menjadi begitu parah ayah… Aku tahu harapan-harapanmu padaku ayah setelah ternyata kakakku sulit untuk engkau harapkan lagi. Engkau malang ayah… Hanya sebagian yang baru engkau rasakan ayah… Oh ayah, aku rindu ayah… Baru satu tahun ini kurasa akrab dan hangat kasih sayangmu, terlalu haru untuk diingat kembali ayah… Oh ayah… ayah… belum cukup semua itu ayah… Apa yang mesti kukatakan lagi ayah… ayah… oh ayah… aku sedih sekali…

(Jakarta, 13 Oktober 2009 – Balada Pejuang)

Published in: on November 29, 2009 at 4:14 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Krisis Identitas

Dulu keramahan itu jadi kebanggaan
Tapi kini justru serasa menghancurkan
Perlukah keramahan dipertahankan
Saatnya kah egoisme menguasai diri
Aku butuh rasa percaya diri
Adakah kebanggaan lain selain itu
Arah yang pasti belum kutentukan
Tumbuhkan egoisme segera
Galang rasa percaya dirimu
Dunia akan kau raih
Tanpa kehilangan akhirat
Cinta akan tetap ada
Seiring dengan egoisme
Bentuknya bagaimana
Entahlah…..

(Slipi, 12 April 2007 – Balada Pejuang)

Published in: on November 29, 2009 at 3:47 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , , , , ,