ETIKA vs ETIKET

 

Apakah etika sama dengan etiket? Ternyata tanpa kita sadari, kita masih sering kebingungan untuk membedakan antara etika dan etiket. Meskipun keduanya memiliki persamaan yaitu memberikan pedoman terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sesungguhnya etika dan etiket memilikii pengertian yang berbeda. Jika etika berkaitan dengan moral (mores), maka etiket berkaitan dengan nilai sopan santun atau tata krama dalam pergaulan formal.

Istilah etiket berasal dari kata etiquette (Perancis) yang bermula dari kartu undangan yang biasanya digunakan pada jaman kerajaan di Perancis ketika mengadakan pertemuan resmi, perta dan resepsi untuk kalangan bangsawan. Dalam perkembangannya, etiket menjadi suatu tata aturan sopan santun yang disetujui oleh masyarakat tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah kita sebagai anggota masyarakat yang baik.

Menurut Kees Bertens dalam bukunya yang berjudul Etika, perbedaan antara etika dan etiket adalah:

  1. Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya. Etiket merupakan tata cara melakukan perbuatan benar sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Etika adalah hati nurani (batiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran diri pribadi. Etiket adalah formalitas (lahiriah), tampak dari sikap luarnya penuh dengan sopan santun dan kebaikan.
  3. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan perbuatan salah mendapat sanksi. Etiket bersifat relatif, yaitu perbuatan yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan daerah tertentu, belum tentu dianggap sama di daerah lainnya.
  4. Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lainyang hadir. Etiket hanya berlaku, jika ada orang lain yang hadir.

 

(Dikutip dari buku Manajemen Insan Sempurna, oleh Jen Z.A. Hans, PhD., DR. HM Syahrial Yusuf, dan DR. Hery Margono)

Advertisements
Published in: on February 5, 2010 at 12:12 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , ,

JALAN BUNTU DALAM NEGOSIASI

Jalan Buntu Dalam Negosiasi

Ada beberapa ketentuan penting yang perlu Anda ingat ketika  ketika Anda menghadapi jalan buntu dalam bernegosiasi :

  1. Jangan menggertak. Menahan diri agar tidak menampah tingkat aktivitas yang mungkin berada dalam perselisihan, tidak mengungkit perselisihan yang lama, dan tidak memberi tahu posisi Anda ke pihak ketiga, dengan harapan mendapat keuntungan tambahan.
  2. Ajukan pertanyaan. Bidang apa yang terbuka untuk negosiasi? Saran apa yang harus diajukan oleh pihak lain? Apa dasar kasus mereka?
  3. Carilah variabel baru. Apa lagi yang dapat ditawarkan untuk diskusi sehubungan dengan konsesi? Misalnya harga, syarat pembayaran, pengiriman, spesifikasi, jaminan, pengemasan, bisnis lanjutan, dan lain-lain.
  4. Berlakulah positif. Misalnya, pusatkanlah pikiran mengenai bagaimana segala sesuatu dapat diperbaiki pada waktu sekarang, bukan mengenai apa yang dahulu salah.
  5. Jangan menyela, dengarkan dengan sungguh-sungguh. Hal ini terkait dengan seni memberi dan menerima isyarat; sangat mengherankan berapa banyak negosiasi yang gagal karena isyarat yang terlewatkan.
  6. Buatlah suatu tawaran bahwa kedua belah pihak harus setuju untuk menunda permasalahan, dan bergeraklah ke depan agar dapat memperoleh kemajuan.
  7. Cipatakan suatu pengalihan. Pertimbangkan suatu perubahan terhadap penekanan, lokasi, atau bahkan karyawan (terutama anggota tim yang paling banyak mengadakan kontak tatap muka).
  8. Tawarkan suatu konsesi yang tak dikehendaki, dengan ogah-ogahan.
  9. Sarankan suatu pertukaran dari konsesi yang sudah disepakati.
  10. Usulkan suatu reses, untuk mendinginkan dan mempertimbangkan kembali posisi, menyoroti hal-hal yang harus dipecahkan.
  11. Kemukakan kembali dan jelaskan posisi mereka dan posisi Anda, dari segi daerah persamaan apa yang ada dan masalah apa yang menghalangi kemajuan.
  12. Tukarkan konsesi kecil untuk suatu langkah besar yang Anda inginkan.
  13. Tetapkan suatu batas waktu. Berilah peringatan bahwa Anda bermaksud melakukan hal ini dan cobalah untuk mendapat tawaran atau usulan yang bermakna, yang mungkin akan memecahkan jalan buntu, menawarkan pertukaran untuk sesuatu yang bernilai bagi Anda.
  14. Ajaklah mereka untuk berterus terang. Seberapa besar kesungguhan mereka dalam melakukan pertukaran dan membuat penyelesaian? Apa perhatian mereka yang terpenting, dan apa yang kurang penting?
  15. Kalau perlu, hilangkan batas waktu.
  16. Usulkan arbitrasi (atau dalam perselisihan ikatan perburuhan, suatu pelayanan konsiliasi profesional).

Sumber:

Buku “Trampil Bernegosiasi” oleh Jeremy G. Thorn, Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo (1995).

Published in: on January 28, 2010 at 10:37 am  Leave a Comment  
Tags: , , , ,