KASUS GANTUNG DIRI

Gantung Diri

KASUS GANTUNG DIRI

Di dalam sebuah ruangan besar yang tertutup rapat, terdapat sesosok tubuh tergantung setinggi 50 cm dari permukaan lantai, tepat ditengah ruangan dengan tali yang kencang ke arah tiang diatasnya dan ujung tali lainnya melingkari lehernya.

Ruangan tersebut merupakan sebuah gudang yang sudah kosong tanpa terdapat benda apapun di dalamnya kecuali genangan-genangan air di beberapa tempat.

Ketika sekelompok orang berdatangan untuk mengevakuasinya, mereka terlihat sama-sama heran dan bingung melihat kondisi tersebut. Mereka semua mempunyai pertanyaan yang sama yaitu dengan alat bantu apakah (selain tali dan tiang) orang tersebut melaksanakan niatnya dengan sukses hingga dapat meninggal secara tergantung???”

Published in: on December 6, 2009 at 3:05 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

KASUS PAK ANTONI

Supervisor Pabrik

KASUS PAK ANTONI

Pak Antoni baru saja dipindahkan dan diangkat menjadi Supervisor Operator di sebuah perusahaan yang terletak di jantung kota metropolitan. Saat ini atasanya adalah Pak Ferry, seorang manajer yang cukup berpengalaman. Namun di tempatnya yang baru ini, Pak Antoni menemui beberapa masalah. Secara umum, bawahan-bawahannya memang cukup bisa bekerja sama. Namun beberapa diantaranya memiliki masalah. Misalnya saja, Pak Andi yang sebetulnya adalah seorang pekerja yang cukup mampu mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, tetapi ia kurang yakin akan dirinya dan setiap menemui hambatan harus selalu meminta bantuannya. Kemudian, Ibu Betty yang kurang teliti dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Di sisi lain, Pak Ferry juga mengeluhkan Pak Antoni. Menurutnya, Pak Antoni adalah seorang atasan yang kurang mampu mendisiplinkan bawahannya dan terkesan tidak ada yang dikerjakan. Menurut Pak Ferry, Pak Antoni selalu melempar tanggung jawab pada bawahannya. Merekalah yang harus merencanakan pekerjaan dan mengatasi masalahnya sendiri. Menurutnya, hal tersebut adalah tidak pada tempatnya. Ia berpendapat bahwa pimpinan yang baik seharusnya mengetahui apa yang hendaknya dicapainya dan kemudian menjelaskannya kepada bawahannya secara terinci. Pak Ferry berpendapat bahwa pengalaman Pak Antoni di tempat sebelumnya tidak banyak berperan. Pak Antoni kurang berinisiatif, selalu menghendaki setiap kebijakan yang ada disertai dengan prosedur serta arahan yang dijabarkan secara terinci sehingga dengan demikian tidak terjadi kesalahan. Menurut Pak Ferry, apabila ia harus melakukan sesuatu seperti yang diharapkan Pak Antoni maka lebih baik ia tidak memerlukan kehadiran seorang supervisor.

Pertanyaan :

  1. Masalah apa yang sebenarnya terjadi di tempat kerja Pak Antoni?
  2. Andaikata anda berperan sebagai Pak Ferry, tindakan apa yang sebaiknya anda lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
Published in: on December 6, 2009 at 2:34 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

KASUS REKRUTMEN SALES

Sales (Tenaga Penjual)

KASUS REKRUTMEN SALES

Rendy adalah seorang Manajer Penjualan di suatu perusahaan produk teknologi tinggi yang besar dimana situasi bisnisnya sangat kompetitif. Saat ini Rendy sedang merasa berada pada situasi yang sangat tidak nyaman. Penjualan divisinya terus menurun dalam enam bulan terakhir ini dan atasannya memberi takanan yang kuat pada dirinya agar meningkatkan lagi penjualan divisinya. Sebulan terakhir ini rendi sudah melakukan survey ke banyak daerah, terjun langsung menjadi Sales untuk memperkuat jajaran tenaga penjualannya, dan tiga hari yang lalu ia telah mewawancarai seorang kandidat Sales yang tampaknya “menjanjikan”.

Rendy ingat bahwa begitu ia memandang sang kandidat memasuki ruang kantornya, ia langsung merasakan kesan bahwa inilah orang yang ia butuhkan untuk divisinya. Selanjutnya, selama proses wawancara berlangsung Rendy merasa semakin terkesan dan merasa beruntung bahwa ia telah “menemukan” orang ini. Kandidat tersebut memiliki prestasi yang mengagumkan sebagai penjual dan sangat mengetahui produk industri teknologi tinggi. Yang lebih menarik lagi, kandidat tersebut baru saja berhenti dari perusahaan pesaing utama perusahaan tempat Rendy bekerja, dengan masa kerja selama 6 tahun yang penuh keberhasilan. Rendy semakin merasa bahwa kualifikasi kandidat tersebut mengalahkan seluruh kandidat lainnya yang pernah ia wawancarai. Rendy sudah berpikiran untuk memperkerjakan kandidat tersebut (yang rencananya akan ia katakan sehari atau dua hari lagi setelah ia memeriksa rujukan kandidat tersebut), sewaktu kandidat tersebut tersenyum sambil meraih tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop segi empat kecil. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah disket komputer dan memegangnya dengan cara seakan-akan benda tersebut sebuah benda berharga.

“Apakah Bapak dapat menerka isi disket ini?’ Tanya sang kandidat. Rendy menggeleng, masih sambil tersenyum sangat percaya diri, sang kandidat menerangkan pada Rendy bahwa isi dari disket tersebut adalah gambaran kondisi kekuatan perusahaan pesaing (tempat kandidat tersebut dulu bekerja) yang bersifat rahasia. Di dalam disket tersebut berisi pula profil seluruh pelanggan mereka dan data biaya dan harga penawaran tender mereka di suatu departemen dimana perusahaan Rendy juga mengikuti tender tersebut. Pada akhirnya sesi wawancara mereka, sang kandidat kembali berjanji pada Rendy, bila Rendy jadi merekrut kandidat tersebut sebagai Sales, maka ia akan memberikan disket tersebut bahkan mungkin lebih banyak lagi informasi.

Sepulangnya kandidat tersebut, perasaaan yang langsung timbul pada Rendy adalah kegeraman. “bagaimana ia dapat melakukan hal itu?”, akan tetapi setelah ia dapat menenangkan diri dan berpikir lebih jernih, ia merasa bahwa kandidat tersebut sedang menawarkan suatu “harta karun” yang tak terduga dan sangat dapat menolong divisinya untuk “mendongkrak” penjualannya. Rendy pun merasa bahwa apa yang ditawarkan kendidat tersebut merupakan penawaran “sekali seumur hidup”. Akhirnya Rendy merasa bingung sendiri terhadap apa yang harus ia putuskan dan lakukan sehubungan dengan rekrutmen kandidat tersebut.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Bila anda Rendy, apa yang akan anda putuskan dan lakukan?
  2. Apa alasan (pertimbangan-pertimbangan) dari keputusan dan tindakan anda?
  3. Apa konsekuensi atau akibat dari keputusan dan tindakan anda?
Published in: on December 6, 2009 at 1:58 pm  Comments (4)  
Tags: , , , , ,

KASUS ORGANISASI

Konflik dalam Organisasi

Lembaga X adalah suatu lembaga penelitian dan pengembangan di negara Y (salah satu negara berkembang yang memiliki potensi sumber daya manusia terbesar di dunia) yang karena posisinya yang strategis saat ini sangat diharapkan perannya dalam melahirkan gagasan-gagasan atau penemuan-penemuan spektakuler yang bermanfaat bagi kemajuan negerinya. Atas instruksi presiden negara Y, Menteri yang terkait dengan lembaga tersebut beberapa bulan yang lalu telah menempatkan orang terbaiknya untuk memimpin lembaga X. Pemimpin yang baru tersebut telah menetapkan visi, misi dan budaya yang dianggap mampu mendorong perubahan ke arah perbaikan bagi lembaga tersebut. Meskipun lembaga ini telah memiliki SDM yang berkualitas baik dibidangnya namun dalam kenyataannya hingga saat ini perubahan yang diharapkan tidak kunjung terwujud karena dihadapkan pada berbagai masalah yang perlu ditangani secara serius agar peran dan harapan pemerintah negara Y terhadap lembaga ini dapat tercapai.

Beberapa masalah yang masih menghambat adalah :

  1. Masalah senioritas, dimana orang-orang yang telah memiliki masa kerja lama enggan dipimpin oleh orang muda yang notabene sebelumnya adalah yuniornya.
  2. Ada beberapa pegawai yang sangat ‘vokal’ dalam mengajukan kritik. Berdasarkan riwayat masa kerjanya, ia pernah berkonflik dengan siapapun yang menjadi atasannya.
  3. Motivasi kerja beberapa pegawai menurun, karena merasa sebentar lagi akan memasuki masa pensiun
  4. Ada ketidakpuasan kerja pada pegawai, karenapendapatan yang diterima kurang mencukupi.
  5. Sharing informasi antar unit kerja terhambat, karena tidak adanya kepercayaan atau ada kecurigaan informasi tertentu hanya akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk kepentingan organisasi, sehingga hal ini menimbulkan konflik interpersonal yang kemudian menghambat kelancaran tugas-tugas organisasi.
  6. Rendahnya sebagian besar pegawai untuk memenuhi komitmen yang telah disepakati (pegawai hanya ‘lip service’ saja, padahal jelas-jelas tujuan komitmen tersebut adalah untuk kepentingan bersama organisasi.
  7. SOP (Standard Operating Procedure) yang ada tidak terlalu dihiraukan lagi, pegawai mengerjakan tugasnya seagaimana yang biasanya dilakukan sehari-hari saja.

Berbagai permasalahan di atas membuat Pemimpin baru ini masih bingung untuk memulai pembenahan dari mana dan dengan cara bagaimana.

Apabila anda ditunjuk oleh Pemimpin yang baru untuk menjadi Ketua Tim Pembenahan Organisasi Instansi X, langkah-langkah konkrit apa yang akan anda usulkan untuk dapat menyelesaikan masing-masing hambatan di atas secara komprehensif dan bagaimana urutan prioritas penyelesaiannya?

Published in: on November 21, 2009 at 6:44 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , , ,

KASUS STRES SAUDARA NSH

Stres dan Sedih

Stres dan Sedih

ILUSTRASI KASUS

NSH adalah seorang pria berusia 43 tahun, berpendidikan SLTA, bersuku bangsa Sunda dari ayah maupun ibu namun ia lahir dan besar di Jakarta. Ia beragama Islam dan saat ini bermukim di kota Serang, Banten.

NSH memiliki isteri bernama NM berusia 34 tahun, berpendidikan SLTA, berstatus Ibu Rumah Tangga meskipun sebelumnya pernah bekerja. NSH dan NM dikaruniai tiga orang anak, yaitu AN anak pertama, berusia 14 tahun, pelajar SLTP. Anak kedua bernama JK, berusia 12 tahun, pelajar SD. Anak ketiga bernama AD, berusia 3 tahun dan belum bersekolah.

NSH sudah tidak memiliki orangtua lagi, ayahnya RM telah meninggal dunia 10 tahun lalu dalam usia 85 tahun dan ibunya SM juga telah meninggal 5 tahun yang lalu dalam usia 80 tahun. Adik kandung satu-satunya yang merupakan adik kembarnya bernama DD telah meninggal dunia ketika berusia 3 tahun.

NSH menempuh pendidikan di SD swasta Islam di bilangan Jakarta Selatan, tahun 1971-1977; SMP swasta nasional di Jakarta Selatan tahun, 1979-1982; dan SMA swasta Islam di Jakarta Selatan, tahun 1982-1985.

Pada tahun 1978 s/d 1979, NSH bekerja di PT. JS di salah satu RS Pemerintah di Jakarta Pusat, sebagai Cleaning Service. Kemudian pada tahun 1979-1982, ia bekerja di PT. HS di kawasan Tebet Jakarta Selatan, sebagai Cleaning Service. Setelah tidak memiliki pekerjaan tetap selama sekitar 5 tahun, kemudian pada tahun 1987 s/d 1990 ia bekerja di PT. CS di bilangan Ciputat Jakarta Selatan, sebagai Pengawas Cleaning Service. Kemudian ia tidak memiliki pekerjaan tetap sekitar 3 tahun. Pada tahun 1993 s/d 1995, ia bekerja sebagai supir pribadi di rumah seorang dokter (ayah salah satu dokter terkenal di Jakarta) yang tinggal di Menteng Jakarta Pusat. Di bawah ini adalah kisah mengenai stress yang dialaminya sebagaimana yang diceritakan kepada penulis.

Dengan membaca basmalah – saya uraikan riwayat hidup sejak kecil saya mengalami trauma, keluarga saya termasuk keluarga yang kurang harmonis, dengan kata lain keluarga yang ‘broken-home’. Sejak kecil saya hidup serba kekurangan baik moril maupun materil. Saya menjalani itu semua dengan keprihatinan dan kesabaran, memang terkadang juga labil. Untungnya dan saya bersyukur, dulu saya pernah sedikit belajar ngaji dengan nenek dari bapak dan saya sering ikut pula kegiatan remaja Islam di mesjid-mesjid.

Sekarang saya sudah berumah tangga dan dikaruniai tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak yang paling besar bersekolah di SMP Negeri di Serang. Senang dan bangga mempunyai anak yang pintar di sekolah. Tapi sedihnya apabila sang anak membutuhkan biaya sekolah (kebutuhan) mendadak, sedangkan saya menganggur, paling-paling cuma bisa mengurut dada, dan batinpun berguncang, menjerit dan menangis.

Selama ini istri saya terus menerus mendesak saya mencari pekerjaan. Hal ini membuat saya mumet tujuh keliling. Coba pikir siapa orang yang tidak ingin membahagiakan keluarganya. Andaikata saya normal seperti dulu tak punya  penyakit hernia (burut) mungkin saya sudah bekerja apa saja, narik becak atau jadi kuli di pasar, yang penting menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarga. Masalahnya adalah untuk kerja berat saat ini saya sudah tidak bisa.

Sambil menunggui warung mertua, ditengah malam saya sering merenungi nasib. Bagaimana masa depan anak-anak dan rumah tanggaku kelak. Sekarang saja, bulan Juli mendatang kontrak rumah harus dibayar. Listrik, PAM dan SPP anak tertua sudah 2 bulan belum dibayar. Hal-hal itu membuat aku stress (depresi). Staminaku yang mulai menurun dan kadang aku mudah sakit-sakitan.

Dulu ketika kami sekeluarga tinggal di Ciamis, isteriku membantu usaha ibunya di pasar Ciamis yaitu berjualan soto ayam. Beberapa tahun kemudian, ibu mertuaku menyuruh meneruskan jualannya, karena ibu mertuaku mau merantau ke Serang. Aku disuruh cari modal buat ibu mertuaku, dan dapat Rp. 250.000,- pinjam dari ibu Een. Terus ibu mertuaku pergi ke Serang Banten untuk berdagang di sana. Isteriku meneruskan usaha ibunya di Ciamis. Sedangkan aku bekerja narik mikrolet di Jakarta dan pulang ke Ciamis 1-2 bulan sekali. Cuma aku tak habis pikir, ibu mertuaku ninggalkan hutang di koperasi Rp. 300.000,-. Jadi kalau kupikir usaha isteriku cuma buat bayarin hutang ibunya. Setelah 3 tahun, usaha jualan soto yang dijalani istriku berangsur-angsur menurun omzetnya. Kemudian aku pun berhenti jadi supir untuk membantu usaha istriku, namun usaha tidak kunjung membaik. Ibu mertuaku akhirnya mengajak kami pindah ke Serang. Tapi sebelum berangkat disuruh cari modal buat dagang. Dengan susah payah aku dapat uang Rp. 300.000,-. Kami mengontrak rumah di Serang sampai sekarang. Selama menjalani kehidupan di Serang-Banten, kumulai dari nol lagi. Awalnya aku mulai berjualan nasi di tempat ibu mertua. Isteriku dan ibunya mendapat bagian siang sedangkan aku bagian malam, karena kami berjualan siang dan malam.

Dua tahun kemudian tempat itu dikasih oleh ibu mertua kepada aku dan isteri, sedangkan ibu mertuaku menyewa tempat tak jauh dari tempat yang lama. Kurasakan kepedihan, keprihatinan selama berjualan, karena warung terbuat dari tenda sederhana, tidak ada listrik, kalau hujan kehujanan, bila ada angin kencang sampai-sampai aku pegangi tenda supaya tidak roboh.

Beberapa tahun kemudian usaha kami ada kemajuan, aku dapat uang hasil warisan orangtua, sebagian untuk membayar hutang dan sebagian untuk membuat warung dan tambahan modal. Sedikit demi sedikit warungku ada kemajuan. Setelah berjalan setahun, rupanya ada orang yang tidak ingin kami maju (maaf bukan su’uzon, tapi ini nyata). Singkat cerita kami kehabisan modal dan dagangan kami sepi pembeli. Mungkin orang modern tidak percaya sebelum mereka mengalami sendiri. Warung tempat kami berjualan ada yang mau merebut. Hampir saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bila istriku tidak mencegahku. Akhirnya dengan musyawarah RT/RW setempat warung itu dibayar Rp. 250.000,-. Aku mengalah… aku istighfar… biarlah nanti Tuhan yang akan membalasnya.

Setelah lahir anak ketiga, aku kembali ke profesi lama narik angkot di Serang. Alhamdulillah aku menjalaninya dengan senang hati dan yang penting keluargaku tidak kelaparan dan kehujanan serta kepanasan, walaupun pendapatan jadi supir angkot jurusan Serang Kota hanya pas-pasan. Aku tak bisa berpisah lama-lama dengan anakku yang ketiga karena cuma dia yang sempat aku tunggui saat kelahirannya. Aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku pada anak-anakku. Tapi kenapa yang satu ini lain dari yang lain, mungkin karena dia masih kecil baru berumur 2,5 tahun.

Tahun 2005, BBM naik, mulailah datang cobaan lagi, narik angkot mulai sepi dan setoran tak terkejar. Banyak pengusaha mobil angkot yang gulung tikar termasuk tempat aku bekerja. Semua mobilnya dilelang, banyak yang menganggur termasuk aku. Terpaksa aku membantu lagi ibu mertuaku berjualan pada malam hari. Aku bersyukur ibu mertuaku mau membantu biaya sekolah anak-anakku dan makan kami. Aku malu, sedih rasanya, aku ingin mati saja (mungkin saat itu aku sedang berputus asa). Untung masih ada seorang sepupuku yang sering membantuku baik itu secara moril maupun spiritual. Jasa-jasanya tak pernah aku lupakan. Aku Cuma dapat berdoa semoga amal-amalmu diterima Allah dan diberikan berkah olehnya, amin.

Hal yang yang juga membuat aku stress adalah aku tidak suka pada isteriku dan ibu mertuaku yang masih suka egois. Kalau mereka sedang sakit, aku sangat perhatian sekali, tapi bila aku sakit, boro-boro dipijitin, ditengok juga tidak ditanya juga tidak. Aku suka jadi sedih, prihatin dan kesal. Sekarang saja begini, bagaimana kalo nanti aku sudah payah atau tua.

Sakit herniaku sering kambuh namun tahun berganti tahun tak kurasakan, ternyata penyakitku semakin parah. Untuk sembuh harus dioperasi tapi biayanya mahal. Aku coba berobat ke tukang urut, sampai sekarang bertambah parah dengan usiaku yang semakin bertambah dan staminaku yang semakin menurun. Kemungkinan disebabkan atau efek dari penyakit yang saya derita dan ditambah pikiran yang kalut (ruwet). Memang tidak semua orang tahu apa-apa yang saya rasakan. Mungkin kebanyakan orang melihat dari luarnya saja, tapi tidak dari dalamnya.

Suatu hal yang rahasia, masalah hubungan suami-isteri, sudah tiga bulan tidak harmonis. Dengan kata lain tiga bulan pisah ranjang. Di luar biasa-biasa aja, tapi di dalam, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya. Mudah-mudahan saya bisa kontrol emosi dan dikuatkan iman. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menjaga keimanan dan ketaqwaan saya pada Allah, yang saya rasakan ada kemajuan. Saya mohon bantuan untuk berbuat yang terbaik. Apa-apa yang kita harapkan belum tentu kita gapai atau terwujud. Begitu pula sebaliknya. Apa-apa yang kita tak kehendaki bisa terjadi. Kita hanya manusia biasa yang cuma bisa berusaha dan berdoa untuk mewujudkan sesuatu yang kita kehendaki, akan tetapi Tuhan juga yang menentukan. Saya berusaha menghibur diri dengan jalan apapun.

Aku sadar dengan keadaanku ini, keadaan vakum tidak mempunyai pekerjaan alias menganggur ditambah lagi mempunyai penyakit hernia (turun bero) yang tidak boleh dianggap ringan. Bila lama-lama didiamkan akan berbahaya. Kalu sedang kumat badanku panas dingin (meriang), badan pegal-pegal, dan kepala pening. Bagaimana orang mau ngasih pekerjaan kalau kondisi kesehatanku begini. Sebetulnya aku malu sekali kalau dikasih sesuatu apalagi meminta bantuan orang lain. Tapi dengan keadaanku begini yach terpaksa aku lakukan, tapi dengan tidak melanggar hukum.

Hampir seminggu ini aku tinggal di Jakarta. Tujuannya silaturahmi sambil mencari-cari pekerjaan meskipun sebenarnya aku mempunyai masalah yang sangat pelik yang membuat aku stress. Aku Cuma dapat berdoa pada Tuhan serta berharap sedikit bantuan seikhlasnya dari saudara-saudaraku di Jakarta, dengan kemurahan hati mereka semoga dapat memberi sedikit solusi bagi masalah yang aku hadapi. Sekarang ini aku ingin kembali ke Serang. Saya tutup cerita ini dengan membaca hamdallah…..

(Jakarta, 22 Mei 2006)

Published in: on November 3, 2009 at 6:17 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,