LUPA DAN AL-QURAN

Lupa di Otak

LUPA DAN AL-QURAN

Diantara problem yang dihadapi manusia ialah seringnya lupa. Ini, kadang-kadang menimbulkan akibat yang buruk baginya dan seringkali menghalanginya dalam mempersiapkan diri guna menghadapi problem-problem kehidupan. Lupa banyak dikemukakan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Apabila ayat-ayat itu ditelaah dan dikaji pengertian yang terkandung di dalamnya, maka akan tampak bagi kita bahwa lupa yang terdapat dalam ayat-ayat itu mempunyai berbagai pengertian yang bisa diikhtisarkan sebagai berikut:

a. Lupa yang terjadi pada benak mengenai berbagai peristiwa, nama seseorang, dan informasi yang diperoleh seseorang sebelumnya.

Ini merupakan lupa normal yang menimpa seseorang akibat bertimbun dan berjalinnya informasi-informasi yang ada. Jenis lupa ini telah dikaji oleh para ahli ilmu jiwa dengan secara mendalam dan menurut mereka lupa ini terjasi akibat interferensi informasi. Mereka mengklasifikasikan interferensi menjadi dua jenis: “interferensi retroaktif” dan “interferensi lanjut”. Interferensi retroaktif terjadi ketika kita belajar materi-materi baru yang membuat melemahnya ingatan kita akan materi-materi yang telah kita pelajari sebelumnya. Interferensi lanjut terjadi akibat pengaruh kebiasaan, kegiatan, dan informasi lama kita dalam mengingat materi yang baru kita pelajari. Banyaknya informasi dan kegiatan sebelumnya membuat sulitnya kita untuk mengingat materi yang kita pelajari belakangan. Sementara ingatan kita terhadap materi baru itu akan lebih baik apabila informasi dan kegiatan kita lebih sedikit. Oleh karena itu, anak-anak lebih mampu untuk mengingat detail-detail berbagai peristiwa pada masa lalu ketimbang orang dewasa. Dalam al-Qur’an, jenis lupa ini diisyaratkan dalam firman Allah:

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepdamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” (QS, al-A’la, 87:6).

b. Lupa yang mengandung makna lalai.

Misalnya seseorang meninggalkan sesuatu di suatu tempat. Atau ia hendak berbincang-bincang dengan seseorang tentang berbagai hal, namun ia hanya ingat sebagiannya dan lupa sebagian lainnya, dan baru ingat kemudiannya. Sebagai contoh, ialah kisah tentang murid Musa as dalam firman-Nya:

“Muridnya menjawab:“Tahukan kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali” (QS, Al-Kahfi, 18:63)

Contoh lainnya ialah ucapan Musa as pada hamba Allah yang shaleh:

“…Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku…” (QS, al-Kahfi, 18:73).

Jenis lupa ini bisa diinterpretasikan sebagai interferensi lanjut yang telah dikemukakan dimuka.

c. Lupa dengan pengertian hilangnya perhatian terhadap sesuatu hal.

Contohnya ialah apa yang terkandung dalam firman Allah berikut:

“…Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka…” (QS, at-Taubah, 9:67).

Pengertian “mereka telah lupa kepada Allah” ialah mereka meninggalkan ketaatan kepada-Nya akibat hilangnya perhatian mereka kepada perintah-perintah-Nya. Dan pengertian “maka Allah melupakan mereka” ialah Allah mengalihkan karunia-Nya dari mereka dan menterlantarkan mereka.

Contoh lain dari jenis lupa ini ialah apa yang terkandung dalam firman Allah yang berikut:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri…” (QS, al-Hasyr, 59:19).

Masuk dalam pengertian ini adalah lupa yang diatributkan pada Adam as dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat” (QS, Thaha, 20:115).

Ini mengandung arti bahwa Adam as “telah lalai tentang perjanjian dengan Allah”. Akibatnya, ia pun lupa akan larangan Allah. Maka, syetan pun menggodanya dan menjerumuskannya dalam kesalahan.

LUPA DAN SYETAN

Menurut sebagian ayat al-Qur’an, syetan melihat bakat manusia untuk lupa sebagai jalan untuk mempengaruhinya. Bakat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal penting yang bermanfaat bagi dirinya. Pun kadang-kadang membuatnya lalai akan Allah dan mengabaikan perintah-perintah-Nya. Di muka telah dikemukakan, dalam uraian tentang lupa yang timbul dari kelalaian, ayat yang mengemukakan tentang murid Musa as yang lupa akan ikannya dan berkata: “dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan”. Sebagai contoh lainnya adalah ayat-ayat berikut:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah adanya peringatan (kepadamu)”. (QS, al-An’am, 6:68).

“Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi” (QS, al-Mujadalah, 58:19).

“Dan yusuf berkata kepada orang yang diperkirakannya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syetan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (QS, Yusuf, 12:42).

Cara syetan menggoda manusia dan mendorongnya lupa akan Allah, dan akan kebaikan dan kemanfaatan bagi dirinya pada umumnya, adalah dengan mempengaruhi dorongan dan hawa nafsunya. Ini memang merupakan titik kelemahan manusia. Sebab, secara alamiah manusia cenderung untuk memenuhi dorongan-dorongannya dan merasakan kelezatan dan kenikmatan. Dari aspek inilah Iblis berhasil menggoda Adam as. Iblis menawarkan kepadanya keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa, apabila ia mau makan buah pohon larangan. Ini membuat Adam lupa akan larangan Allah dan terjerumus dalam kesalahan. Dengan cara yang sama, syetan mempengaruhi semua manusia ketika pada diri mereka dibangkitkannya hawa nafsu mereka yang membuat mereka terjerat olehnya dan lalai akan Allah:

“dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing: jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)…” (QS, al-A’raf, 7:175-176).

TERAPI LUPA DALAM AL-QUR’AN

Terapi lupa yang timbul akibat kelalaian akan Allah adalah dengan ingat terus-menerus akan Dia, nikmat dan karunia-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan-ciptaan-Nya, akhirat, dan hari perhitungan. Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan pentingnya ingat pada Allah sebagai terapi bagi jenis lupa ini. Ini tampak jelas dari firman-Nya:

“…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…” (QS, al-Kahfi, 18:24).

Lebih jauh lagi, al-Qur’an memuji orang-orang beriman yang selalu ingat akan Allah. Dan mereka ini diberi atribut sebagai orang-orang yang berakal:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS, Ali Imran, 3:190-191).

Oleh karena ingat Allah merupakan terapi bagi lupa dan kelalaiannya hati, maka Allah memerintahkan kita untuk banyak mengingat-Nya, baik siang maupun malam, pagi dan sore:

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (qs, al-Ahzab, 33:41-42).

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS, an-Nisa‘, 4:103).

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS, aal-Jum’ah, 62:10)

Terapi kelupaan manusia akan Allah dan kelalainnya akan akhirat, dengan demikian, adalah dengan cara ingat akan Allah secara terus-menerus. Sehingga Allah hadir dalam hatinya secara terus-menerus, sekejappun tidak pernah hilang. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip belajar, yang telah dikemukakan di muka, yaitu pengulangan. Pengulangan ingat akan Allah biasanya akan membentuk kebiasaan bagi seseorang untuk selalu ingat dan memuji Allah. Sehingga kebiasaan inipun menjadi mapan dan terpancang kuat dalam tingkah lakunya dan setiap saat selalu timbul tanpa upaya apapun. Allah pun, dengan demikian, menjadi selalu hadir dalam kalbunya. Ini adalah keadaan yang ingin diusahakan tercapainya oleh para sufi, dengan jalan mengulang-ulang latihan dan riadhah rohaniah.

Karena al-Qur’an adalah kitab aqidah, dan bukannya tentang ilmu pengetahuan, maka wajarlah bila ia menaruh perhatian terhadap problem kelupaan dan kelalaian manusia akan Allah dan akhirat, juga kepada terapinya. Sebab hal ini penting bagi kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun akhirat. Apabila prinsip yang dipakai untuk terapi jenis lupa ini adalah dengan pengulangan ingat akan Allah, hingga kebiasaan ini menjadi mapan dan terpancang kuat pada tingkah laku seseorang, maka dari sini dapat pula kita ikhtisarkan terapi bagi kelupaan kita yang biasa tentang informasi-informasi dan data-data, yang bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis seperti telah dikemukakan di muka. Terapi yang dipakai ialah dengan mengulang-ulang informasi dan data itu. Dengan kata lain dengan menelaah dan mempelajarinya berkali-kali. Ini merupakan hal yang telah dibahas oleh para ahli ilmu jiwa modern, namun perhatian mereka baru terbatas pada pengkajian dua jenis lupa yang telah disebutkan di atas saja dan mereka tidak berusaha mengadakan pengkajian terhadap jenis ketiga yang terdapat di dalam al-Qur’an seperti yang telah diuraikan di atas.

(Sumber: Al-Quran dan Ilmu Jiwa)

Published in: on December 9, 2009 at 10:05 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , , ,

KASUS GANTUNG DIRI

Gantung Diri

KASUS GANTUNG DIRI

Di dalam sebuah ruangan besar yang tertutup rapat, terdapat sesosok tubuh tergantung setinggi 50 cm dari permukaan lantai, tepat ditengah ruangan dengan tali yang kencang ke arah tiang diatasnya dan ujung tali lainnya melingkari lehernya.

Ruangan tersebut merupakan sebuah gudang yang sudah kosong tanpa terdapat benda apapun di dalamnya kecuali genangan-genangan air di beberapa tempat.

Ketika sekelompok orang berdatangan untuk mengevakuasinya, mereka terlihat sama-sama heran dan bingung melihat kondisi tersebut. Mereka semua mempunyai pertanyaan yang sama yaitu dengan alat bantu apakah (selain tali dan tiang) orang tersebut melaksanakan niatnya dengan sukses hingga dapat meninggal secara tergantung???”

Published in: on December 6, 2009 at 3:05 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

KASUS PAK ANTONI

Supervisor Pabrik

KASUS PAK ANTONI

Pak Antoni baru saja dipindahkan dan diangkat menjadi Supervisor Operator di sebuah perusahaan yang terletak di jantung kota metropolitan. Saat ini atasanya adalah Pak Ferry, seorang manajer yang cukup berpengalaman. Namun di tempatnya yang baru ini, Pak Antoni menemui beberapa masalah. Secara umum, bawahan-bawahannya memang cukup bisa bekerja sama. Namun beberapa diantaranya memiliki masalah. Misalnya saja, Pak Andi yang sebetulnya adalah seorang pekerja yang cukup mampu mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, tetapi ia kurang yakin akan dirinya dan setiap menemui hambatan harus selalu meminta bantuannya. Kemudian, Ibu Betty yang kurang teliti dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Di sisi lain, Pak Ferry juga mengeluhkan Pak Antoni. Menurutnya, Pak Antoni adalah seorang atasan yang kurang mampu mendisiplinkan bawahannya dan terkesan tidak ada yang dikerjakan. Menurut Pak Ferry, Pak Antoni selalu melempar tanggung jawab pada bawahannya. Merekalah yang harus merencanakan pekerjaan dan mengatasi masalahnya sendiri. Menurutnya, hal tersebut adalah tidak pada tempatnya. Ia berpendapat bahwa pimpinan yang baik seharusnya mengetahui apa yang hendaknya dicapainya dan kemudian menjelaskannya kepada bawahannya secara terinci. Pak Ferry berpendapat bahwa pengalaman Pak Antoni di tempat sebelumnya tidak banyak berperan. Pak Antoni kurang berinisiatif, selalu menghendaki setiap kebijakan yang ada disertai dengan prosedur serta arahan yang dijabarkan secara terinci sehingga dengan demikian tidak terjadi kesalahan. Menurut Pak Ferry, apabila ia harus melakukan sesuatu seperti yang diharapkan Pak Antoni maka lebih baik ia tidak memerlukan kehadiran seorang supervisor.

Pertanyaan :

  1. Masalah apa yang sebenarnya terjadi di tempat kerja Pak Antoni?
  2. Andaikata anda berperan sebagai Pak Ferry, tindakan apa yang sebaiknya anda lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
Published in: on December 6, 2009 at 2:34 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

KASUS REKRUTMEN SALES

Sales (Tenaga Penjual)

KASUS REKRUTMEN SALES

Rendy adalah seorang Manajer Penjualan di suatu perusahaan produk teknologi tinggi yang besar dimana situasi bisnisnya sangat kompetitif. Saat ini Rendy sedang merasa berada pada situasi yang sangat tidak nyaman. Penjualan divisinya terus menurun dalam enam bulan terakhir ini dan atasannya memberi takanan yang kuat pada dirinya agar meningkatkan lagi penjualan divisinya. Sebulan terakhir ini rendi sudah melakukan survey ke banyak daerah, terjun langsung menjadi Sales untuk memperkuat jajaran tenaga penjualannya, dan tiga hari yang lalu ia telah mewawancarai seorang kandidat Sales yang tampaknya “menjanjikan”.

Rendy ingat bahwa begitu ia memandang sang kandidat memasuki ruang kantornya, ia langsung merasakan kesan bahwa inilah orang yang ia butuhkan untuk divisinya. Selanjutnya, selama proses wawancara berlangsung Rendy merasa semakin terkesan dan merasa beruntung bahwa ia telah “menemukan” orang ini. Kandidat tersebut memiliki prestasi yang mengagumkan sebagai penjual dan sangat mengetahui produk industri teknologi tinggi. Yang lebih menarik lagi, kandidat tersebut baru saja berhenti dari perusahaan pesaing utama perusahaan tempat Rendy bekerja, dengan masa kerja selama 6 tahun yang penuh keberhasilan. Rendy semakin merasa bahwa kualifikasi kandidat tersebut mengalahkan seluruh kandidat lainnya yang pernah ia wawancarai. Rendy sudah berpikiran untuk memperkerjakan kandidat tersebut (yang rencananya akan ia katakan sehari atau dua hari lagi setelah ia memeriksa rujukan kandidat tersebut), sewaktu kandidat tersebut tersenyum sambil meraih tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop segi empat kecil. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah disket komputer dan memegangnya dengan cara seakan-akan benda tersebut sebuah benda berharga.

“Apakah Bapak dapat menerka isi disket ini?’ Tanya sang kandidat. Rendy menggeleng, masih sambil tersenyum sangat percaya diri, sang kandidat menerangkan pada Rendy bahwa isi dari disket tersebut adalah gambaran kondisi kekuatan perusahaan pesaing (tempat kandidat tersebut dulu bekerja) yang bersifat rahasia. Di dalam disket tersebut berisi pula profil seluruh pelanggan mereka dan data biaya dan harga penawaran tender mereka di suatu departemen dimana perusahaan Rendy juga mengikuti tender tersebut. Pada akhirnya sesi wawancara mereka, sang kandidat kembali berjanji pada Rendy, bila Rendy jadi merekrut kandidat tersebut sebagai Sales, maka ia akan memberikan disket tersebut bahkan mungkin lebih banyak lagi informasi.

Sepulangnya kandidat tersebut, perasaaan yang langsung timbul pada Rendy adalah kegeraman. “bagaimana ia dapat melakukan hal itu?”, akan tetapi setelah ia dapat menenangkan diri dan berpikir lebih jernih, ia merasa bahwa kandidat tersebut sedang menawarkan suatu “harta karun” yang tak terduga dan sangat dapat menolong divisinya untuk “mendongkrak” penjualannya. Rendy pun merasa bahwa apa yang ditawarkan kendidat tersebut merupakan penawaran “sekali seumur hidup”. Akhirnya Rendy merasa bingung sendiri terhadap apa yang harus ia putuskan dan lakukan sehubungan dengan rekrutmen kandidat tersebut.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Bila anda Rendy, apa yang akan anda putuskan dan lakukan?
  2. Apa alasan (pertimbangan-pertimbangan) dari keputusan dan tindakan anda?
  3. Apa konsekuensi atau akibat dari keputusan dan tindakan anda?
Published in: on December 6, 2009 at 1:58 pm  Comments (4)  
Tags: , , , , ,

PERILAKU KONTRAPRODUKTIF

Perilaku Kontraproduktif

Pengertian Perilaku Kontraproduktif

Menurut Levy & Ritti (2003), perilaku kontraproduktif merupakan perilaku karyawan yang berupa perilaku mencuri/maling (theft), perilaku sabotase (sabotage), pemerasan (blackmail), penyuapan (bribery) dan perilaku menyerang orang lain (aggression).

Dalam pengertian yang kita pahami sehari-hari, perilaku mencuri/ maling/manipulasi uang dan penyuapan disebut juga dengan istilah korupsi yang memiliki pengertian yang paling sempit yakni menguasai uang yang bukan haknya sehingga merugikan institusi tempat pelakunya bekerja. Dari berbagai kasus, diketahui bahwa pelaku-pelakunya datang dari berbagai kalangan, mulai dari tingkat direktur utama, manajer, pimpinan proyek, pengawas hingga level pelaksana teknis atau pekerja di lapangan (Meliala, 1998).

Ada kaitan antara modus (cara melakukan) manipulasi, nilai uang yang dimanipulasi dan status sosial pelakunya, yaitu semakin tingginya status sosial sang pelaku manipulasi diduga akan berkaitan dengan semakin besarnya nilai uang yang dapat diselewengkan. Demikian pula halnya dengan modusnya yang cenderung semakin canggih dan kompleks.

Menurut Alatas (1975, dalam Meliala, 1998), perilaku korupsi (mencuri, penyuapan, dan sejenisnya) dikatakan telah berkembang menjadi fenomena yang bercirikan sebagai berikut :

  • Senantiasa melibatkan lebih dari satu orang.
  • Pada umumnya berlangsung dengan penuh kerahasiaan, kecuali dimana ia telah begitu merajalela dan berurat-berakar sehingga individu-individu yang melakukannya tidak mengganggap perlu menyembunyikan perbuatan mereka.
  • Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal-balik.
  • Pelakunya biasanya menyelubungi perbuatannya dengan berlindung dibalik pembenaran hokum.
  • Mereka yang terlibat adalah kalangan yang walaupun setuju dengan keputusan-keputusan yang tegas namun berharap masih bisa dipengaruhi sesuai kepentingan mereka.
  • Mengandung penipuan, biasanya terhadap lembaga publik atau masyarakat umum.
  • Pada dasarnya adalah suatu pengkhianatan kepercayaan.
  • Setiap bentuknya melibatkan fungsi berganda yang kontradiktif dari pihak yang melakukannya.
  • Melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam tataran masyarakat dan menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan khusus pihak tertentu.

Berdasarkan uraian di atas maka disimpulkan pengertian dan batasan dari perilaku kontraproduktif adalah penyalahgunaan uang perusahaan yang dilakukan oleh karyawan operasional melalui penerimaan uang pembayaran tiket parkir dari pelanggan dengan cara-cara yang melanggar prosedur/ketentuan perusahaan (tidak sah), antara lain dengan cara-cara :

  • Mengangkat “boom-gate” dengan tangan bukan mesin (biasanya dilakukan oleh 2 orang karena berat).
  • Menerima pembayaran dari kendaraan parkir
  • Menggunakan tiket langganan pada kendaraan yang “menginap” (over-night)
  • Mengeluarkan kendaraan dengan tiket gratis (pada kasus ada input mobil kepuar tetapi tidak ada fisik mobil di lokasi parkir).
  • Memalsu tiket parkir kendaraan (stempel palsu).
  • Pembongkaran (hacking) program komputer pada mesin tiket parkir.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Perilaku Korupsi/Manipulasi Uang sebagai Perilaku Kontraproduktif

Perilaku korupsi/manipulasi uang sesungguhnya dapat dikaji dari sudut pandang lingkungan atau tempat terjadinya perilaku tersebut. Beberapa instansi pemerintah misalnya dikenal memiliki “reputasi” tertentu dalam hal korupsi yang dilakukan oleh karyawannya.

Namun demikian, bukannya tidak ada lingkungan kerja tertentu di perusahaan swasta yang tidak mendukung munculnya korupsi. Mungkin yang berbeda dengan fenomena di birokrasi pemerintahan adalah jenis penyebabnya. Di kalangan swasta, korupsi umumnya baru dapat terjadi bila terdapat pengawasan yang lemah, persaingan yang ketat, adanya kesempatan, kelihaian melakukan manipulasi dan sebagainya (Tempo, 19 Februari 1983. dalam Meliala, 1998).

Secara psikologis, fenomena “menyimpang” seperti terdapat di lingkungan kerja pemerintahan maupun swasta tersebut juga dapat dibahas dalam konteks perilaku kelompok (group behaviour). Pada situasi terdapatnya kesempatan (opportunity) akibat lemahnya kendali kelompok (group control), akibat ketidakpaduan antara kata dan perbuatan (inconsistency) antar anggota, demikian pula akibat persaingan ketat dalam mengejar tujuan materi (material-led competition), diduga kuat gampang memunculkan perilaku yang tidak mengindahkan norma dan nilai setempat.

Sebaliknya, kuatnya kendali kelompok, mengingat adanya kohesivitas kelompok yang tinggi, juga dapat menjadi predisposisi bagi timbulnya korupsi. Hal itu terjadi bila ada anggota kelompok yang pada dasarnya tidak ingin melakukan hal itu, lalu terpaksa melakukan penyesuaian diri (conformity) guna terhindar dari tekanan kelompok atau group pressures (Aronson, 1984, 22-25, dalam Meliala, 1998).

Pada akhirnya dapat dikatakan, terlepas dari lingkungan kerja birokrasi atau swasta, pastilah terdapat karakteristik lingkungan tertentu yang mengembangkan berbagai predisposisi bagi lahirnya korupsi (Tempo, 19 Februari 1983 dalam Meliala, 1998). Bila dilihat secara umum, maka karakteristik tersebut adalah (Singgih, 1993, dalam Meliala, 1988) :

  • Kelemahan dalam pengawasan
  • Masih terdapatnya atasan yang tidak mampu melaksanakan fungsinyasebagai pengawas atas aktivitas bawahannya.
  • Kekurangberanian  atasan mengambil tindakan tegas terhadap bawahan yang korupsi.
  • Gaji/penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dasar menurut indicator kesejahteraan karyawan.
  • Tidak diterapkannya secara konsisten sistem alih tugas jabatan (mutasi, promosi, degradasi).
  • Penggunaan berbagai sarana komunikasi dan informasi canggih yang mempermudah dilakukannya korupsi.

Selanjutnya, ada kalangan yang menduga, motif terkuat dalam melakukan korupsi adalah motif memperkaya diri sendiri. Tetapi, ada pula yang berpikir bahwa sepanjang dilakukan secara terbatas, maka motif korupsi tentunya hanya terbatas pada upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Pandangan “relativisme” tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk dan jumlah perilaku yang dianggap korupsi atau bukan korupsi. Sebagai suatu perbuatan yang memiliki norma menyimpang (deviant norm), pandangan relative ini potensial menimbulkan kekaburan ataupun kerancuan, yang mana dari sudut pelakunya dapat dipakai sebagai pembenaran atau justifikasi guna melakukan korupsi.

Sebagai suatu gejala sosial, seperti sudah diuraikan, perilaku korupsi memang amat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kesempatan/ peluang, “budaya”, status sosial, motif dan gaya hidup, yang pada intinya mengacu pada upaya pemuasan nafsu konsumerisme individu (Sukardi, 1990, dalam Meliala, 1998).

Dalam kaitan ini, Alatas (1975, h. 46, dalam Meliala, 1998) memiliki daftar penyebab korupsi/manipulasi uang sebagai perilaku kontraproduktif yang meliputi unsur pribadi dan lingkungan :

  • Kelemahan pendidikan, pengajaran agama dan etika.
  • Feodalisme, sebagai unsure yang tidak menggugah kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi.
  • Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberikan ilham dan mempengaruhi perilaku yang menjinakkan korupsi.
  • Kemiskinan pelakunya.
  • Tidak adanya hukuman yang keras.
  • Langkanya lingkungan yang subur bagi perilaku anti korupsi.
  • Struktur pemerintahan.
  • Terjadinya perubahan radikal dalam struktur masyarakat yang memungkinkan munculnya korupsi sebagai penyakit transisional.

Untuk konteks Indonesia, hidupnya budaya patrimonial yang menempatkan atasan sebagai “bapak” dan bawahan sebagai “anak”, mau tak mau, harus juga diakui kehadirannya. Dalam paham ini, sebagaimana layaknya seorang bapak, atasan harus mengayomi anak-anaknya dari marabahaya. Dari hubungan tersebut, muncullah “kekuasaan” yang konkrit (Anderson, 1984, h. 51, dalam Meliala, 1998). Untuk itu, sebagai balas jasa, anak-anak harus memberi “upeti” kepada bapak. Hal ini juga dimungkinkan berkat adanya pemahaman bahwa harta pribadi pada dasarnya adalah juga harta komunal. Pada konteks dewasa ini, pemberian upeti tersebut telah dianggap termasuk kategori korupsi/ manipulasi.

Budaya patrimonial juga kerap sulit melihat perbedaan antara milik pribadi dan milik bersama maupun perbedaan antara “milikmu” dan “milikku”. Terhadap pemegang kekuasaan, adalah “abash” atau legal bila mempergunakan segala sumber atau akses yang dikuasainya dalam rangka pemusatan atau penonjolan “kekuasaannya” (Anderson, 1984, h. 53, dalam Meliala, 1998). Hal mana mengakibatkan, antara lain, tingginya kecenderungan dalam penggunaan fasilitas Negara oleh pejabat yang disertai dengan lemahnya control.

Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya korupsi/manipulasi uang adalah:

a.   Faktor Individu:

  • Kemiskinan pelakunya.
  • Kelihaian pelakunya.
  • Penggunaan teknologi canggih yang mempermudah korupsi.

b.   Faktor Kelompok:

  • Lemahnya pengawasan dari atasan.
  • Atasan tidak mampu melaksanakan fungsinya.
  • Atasan kurang berani bertindak tegas pada bawahan korupsi.
  • Ketiadaan/kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci.
  • Kohesivitas kelompok yang tinggi.
  • Persaingan yang ketat.

c.   Faktor Pekerjaan dan Organisasi:

  • Gaji/penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dasar.
  • Sistem alih tugas jabatan tidak diterapkan secara konsisten.
  • Tidak adanya hukuman/sanksi yang keras.
  • Adanya kesempatan.

d.   Faktor Luar Organisasi (Lingkungan):

  • Lemah/kurangnya pendidikan, pengajaran agama dan etika.
  • Feodalisme, unsur tidak menggugah kesetiaan & kepatuhan.
  • Langkanya lingkungan yang subur bagi perilaku anti korupsi.
  • Terjadinya perubahan radikal dalam struktur masyarakat.
  • Budaya patrimonial.

Faktor-Faktor yang Dapat Mencegah Munculnya Perilaku   Mencuri/Manipulasi Uang sebagai Perilaku Kontraproduktif

Betapa pun tidak pernah dilakukan penelitian yang mendalam, namun diyakini bahwa ternyata tidak semua orang yang memiliki predisposisi melakukan korupsi ternyata benar-benar melakukan korupsi. Sebaliknya, juga terdapat cukup banyak masyarakat yang tidak memiliki predisposisi seperti disebut oleh Alatas di bagian terdahulu, namun memiliki angka korupsi sama atau bahkan lebih tinggi dibanding masyarakat Indonesia pada umumnya. Singkatnya, terdapat faktor-faktor tertentu, atau kombinasinya, yang membuat individu melakukan atau tidak melakukan korupsi.

Faktor-faktor individual seperti tingkat tertentu dari pertimbangan moral seseorang, mungkin dapat dikatakan sebagai yang menghambat seseorang melakukan perilaku menyimpang (Kohlberg, 1976, h. 31-53, dalam Meliala). Dalam hal ini, bagi sekalangan orang dengan struktur moral tertentu, korupsi rupanya masih dikategorikan perilaku menyimpang yang harus dijauhi (v.d. Heuvel, 1980). Demikian pula dengan tingginya penghayatan keagamaan dan motif kejujuran (Alatas, 1975, h. 70-75, dalam Meliala, 1998).

Mereka yang tidak memberikan penilaian tinggi pada materi dan tinggi penghayatannya pada agama (Rokeach, 1973 & 1969), juga diketahui memiliki predisposisi rendah untuk berperilaku menyimpang. Dikatakan oleh Tyler (1990, h. 80-83, dalam Meliala, 1998), kualitas-kualitas pribadi tersebut biasanya berkorelasi dengan perilaku yang menjauhi perbuatan yang dianggap negatif tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mencegah/menghambat terjadinya korupsi/ manipulasi uang sebagai perilaku kontraproduktif adalah: (a) tingkat pertimbangan moral tertentu (Kohlberg, 1976); (2) tingkat struktur moral tertentu (v.d. Heuvel, 1980); (3) tingginya penghayatan keagamaan (Alatas, 1975 & Rokeach, 1973 & 1969); (4) tingginya motif kejujuran (Alatas, 1975); dan (5) tidak memberikan penilaian tinggi pada materi (Rokeach, 1973 & 1969).

Bahan Bacaan :

  1. Levy, Steve & Ritti, R. Richard. 2003. Instructor Manual for The Ropes to Skip and Ropes to Know. Sixth Edition. New York: John Wiley and Sons, Inc.
  2. Meliala, Adrianus. 1998. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Mahasiswa Terhadap Korupsi. Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Aku Sedih Sekali Ayah…

Kondisi ‘Koma’

Dalam keadaan engkau sakit tak sadarkan diri (koma) begini, ingin rasanya aku memandang wajahmu terus, memandang semua yang telah begitu lekat dalam hidupku sehari-hari. Tadi aku begitu rindu ingin melihat kerut tangannya yang khas, kubelai… sampai tak terasa pikiranku melayang ke masa lalu ketika ia masih sehat sebelum sakit sekarang. Aku jadi sangat sedih tak terkira. Kubayangkan bila suatu ketika aku tak dapat lagi memegang tangannya seperti saat ini. Ada dorongan untuk terus mengamati ayah yang terbaring dalam tak berdaya itu. Aku rindu ayah… belum cukup bagiku membuatmu bahagia ayah… Belum terbayar usahamu ayah… Aku ingin lebih dari itu, aku ingin berbakti ayah… Aku ingin engkau betul-betul merasakan hasil jerih payahmu yang keras dan tulus itu ayah… Engkau wariskan sifat-sifat itu padaku ayah… Bukankah engkau ingin melihat hasilnya ayah… Tak kusangka sakit engkau akan menjadi begitu parah ayah… Aku tahu harapan-harapanmu padaku ayah setelah ternyata kakakku sulit untuk engkau harapkan lagi. Engkau malang ayah… Hanya sebagian yang baru engkau rasakan ayah… Oh ayah, aku rindu ayah… Baru satu tahun ini kurasa akrab dan hangat kasih sayangmu, terlalu haru untuk diingat kembali ayah… Oh ayah… ayah… belum cukup semua itu ayah… Apa yang mesti kukatakan lagi ayah… ayah… oh ayah… aku sedih sekali…

(Jakarta, 13 Oktober 2009 – Balada Pejuang)

Published in: on November 29, 2009 at 4:14 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Krisis Identitas

Dulu keramahan itu jadi kebanggaan
Tapi kini justru serasa menghancurkan
Perlukah keramahan dipertahankan
Saatnya kah egoisme menguasai diri
Aku butuh rasa percaya diri
Adakah kebanggaan lain selain itu
Arah yang pasti belum kutentukan
Tumbuhkan egoisme segera
Galang rasa percaya dirimu
Dunia akan kau raih
Tanpa kehilangan akhirat
Cinta akan tetap ada
Seiring dengan egoisme
Bentuknya bagaimana
Entahlah…..

(Slipi, 12 April 2007 – Balada Pejuang)

Published in: on November 29, 2009 at 3:47 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , , , , ,

MOTIVASI DAN ETOS KERJA

motivation_sepeda

Motivasi yang Kuat

RANCANGAN PROGRAM PELATIHAN MOTIVASI DAN ETOS KERJA DALAM RANGKA PENCEGAHAN PERILAKU KONTRAPRODUKTIF

Dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi perkembangan yang menggembirakan dari bisnis perparkiran yang dikelola secara modern di Indonesia. PT. X yang saat ini memiliki lebih kurang 7800 karyawan tampil sebagai pioneer sekaligus menjadi market leader. Untuk mempertahankan posisi market leader dari ancaman para kompetitor yang semakin progresif, dituntut upaya keras dari PT. X untuk membenahi pengelolaan bisnisnya yang masih lemah khususnya dalam hal kualitas sumber daya manusia.

PT. X saat ini memiliki keluhan bahwa hampir pada semua unit operasional perparkiran yang dikelolanya terjadi penyalahgunaan/ manipulasi uang penerimaan parkir yang merugikan perusahaan baik secara finansial, etika/moral karyawan maupun citra perusahaan di masyarakat. Dalam upaya mengatasi dampak kerugian yang dialami maka manajemen PT. X merasa perlu untuk segera merancang program intervensi yang mampu mencegah terjadinya perilaku tersebut sekaligus meningkatkan motivasi serta perilaku kerja yang produktif.

Berdasarkan teori yang dikaji, perilaku karyawan dalam bentuk penyalahgunaan/manipulasi uang yang merugikan perusahaan disebut dengan perilaku kontraproduktif (contraproductive behaviour). Timbulnya perilaku ini dapat berpangkal pada kurangnya kepuasan kerja yang dapat disebabkan oleh: faktor pekerjaan, faktor individu/pribadi, faktor sosial dan faktor kesempatan berkembang. Setelah mengkaji data sekunder maupun data primer melalui kuesioner dan wawancara, disimpulkan bahwa masalah utama dari permasalahan di atas adalah: (a) faktor pekerjaan: job description kurang lengkap-terinci, prosedur kerja (SOP) kurang detil-ketat, sifat pekerjaan berhubungan langsung dengan uang, dan kurangnya keamanan kerja (status kontrak); (b) faktor individu; status sosial-ekonomi kurang, kebiasaan/budaya hidup kurang baik, etos kerja kurang dan penghayatan agama kurang; (c) faktor sosial: lemahnya kualitas penyeliaan atasan (pengawasan kurang ketat), sikap/perilaku negatif rekan kerja, dan lingkungan bergaya hidup konsumtif; dan (d) faktor kesempatan berkembang: kurangnya kesempatan mengembangkan diri, dan kurangnya pemberian pengakuan/penghargaan dari perusahaan atas perilaku/prestasi yang ditampilkan/dicapai karyawan.

Secara teoritik ada beberapa alternatif solusi sebagai intervensi terhadap masalah di atas, yaitu : Intervensi Strategis, berupa pembentukan budaya kerja yang bertujuan memberikan pedoman kepada karyawan dalam bersikap dan berperilaku kerja; Intervensi Teknostruktural, berupa penyempurnaan job description dan SOP unit operasional yang bertujuan memberikan panduan operasional pelayanan parkir secara akurat dan ketat sehingga mempersempit kesempatan manipulasi uang parkir; Intervensi Manajemen SDM, berupa penyusunan sistem penghargaan & hukuman yang bertujuan memberikan pengakuan/penghargaan kepada karyawan yang menampilkan perilaku/prestasi positif dan sebaliknya memberikan sanksi/hukuman kepada karyawan berperilaku/berprestasi tidak diharapkan. Intervensi Proses Manusia, berupa pelatihan peningkatan motivasi dan etos kerja karyawan operasional yang bertujuan agar mereka dapat mengenal potensi dirinya, hambatan-hambatan, teknik memotivasi, dan etos kerja positif/negatif serta konsekuensinya.

Berdasarkan analisis terhadap keuntungan dan kerugian masing-masing alternatif solusi di atas, maka dipilih pelatihan peningkatan motivasi dan etos kerja sebagai alternatif terbaik untuk direkomendasikan kepada pihak Manajemen PT. X mengingat alternatif ini secara umum lebih baik dalam hal efektivitas, durasi, sumber daya dan biaya, dibandingkan ketiga alternatif solusi lainnya.

Pelatihan peningkatan motivasi dan etos kerja yang direkomendasikan berisi: sasaran, silabus, metode, tempat, durasi, peserta, pelatih, evaluasi dan biaya pelatihan. Pelatihan dilaksanakan secara bertingkat diawali dengan memberikan Pelatihan Untuk Pelatih dan Pelatihan Motivasi dan Etos Kerja kepada para atasan di unit operasional parkir (Assistant Manager hingga Regional Manager) dalam rangka menyiapkan mereka menjadi pelatih untuk pelatihan kepada level pengawas dan level pelaksana. Pada akhir pelatihan, dilakukan pemantauan (monitoring) dan evaluasi oleh atasan terhadap perubahan perilaku peserta di tempat kerja. Dengan mengikuti pelatihan ini diharapkan karyawan akan memiliki motivasi tinggi dan etos kerja positif yang dapat menumbuhkan kepuasan kerja tinggi sehingga dapat mencegah timbulnya perilaku kontraproduktif khususnya dalam penyalahgunaan uang pembayaran parkir.

(Abstrak Tugas Akhir S2 Pascasarjana UI Tahun 2006)

Published in: on November 8, 2009 at 6:34 am  Comments (1)  
Tags: , , , , ,

AYAH…

Ayah
Ayah Tercinta

ENGKAU MENDERITA AYAH

Engkau menderita, tak berdaya

Pandangan hampa, haru dan muram …

Engkau membuatku serba pesimistis

Namun kadang engkau keras bagai baja

Aku patuh yang menjengkelkan

Aku tak habis mengerti juga Ayah …

BUAT AYAH TERCINTA

Sesungguhnya orang yang mati di jalan Allah itu tidak mati,

tetapi tetap hidup di sisi Allah

Kita menunggu gilirannya dan akan kembali kepada Allah

Ayah …

Engkau pasti tahu apa yang aku rasakan

Dan apa yang aku pikirkan tentang engkau

Aku ingin menjadi anak yang shaleh

Jaminan ketenangan engkau di sana

Walau telah seratus hari engkau pergi

Semoga jalanmu semakin terang Ayah …

(Coretan 1984-1985)

Published in: on November 7, 2009 at 10:21 am  Comments (1)  
Tags: , , , , ,