ISLAM TAPI TIDAK ISLAMI

 

SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang.

Kepada Renan, filosof Prancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya.

Dengan ringan Renan, yang juga pengamat dunia Timur itu mengatakan :

“Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran.
Tapi tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”.
Dan Abduh pun terdiam.

Satu abad kemudian beberapa peneliti dari George Washington University ingin membuktikan tantangan Renan.

Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatan waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah SAW.

Berbekal sederet indikator yang mereka sebut sebagai ‘islamicity index’ mereka datang ke lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa islami negara-negara tersebut.

Hasilnya ?

Selandia Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami.

Indonesia ?
Harus puas di urutan ke 140.

Nasibnya tak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan bertengger di ‘ranking’ 100-200.

Apa itu islam ?
Bagaimana sebuah negara atau seseorang dikategorikan islami ?

Kebanyakan ayat dan hadits menjelaskan Islam dengan menunjukkan indikasi-indikasinya, bukan definisi.

Misalnya hadits yang menjelaskan bahwa :
“Seorang Muslim adalah orang yang disekitarnya selamat dari tangan dan lisannya”.
Itu indikator.

Atau hadits yang berbunyi :
“Keutamaan Islam seseorang adalah yang meninggalkan yang tak bermanfaat”.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga … hormati tamu.”

“Bicara yang baik atau diam”.

Jika kita koleksi sejumlah hadits yang menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kota bahkan negara.

Dengan indikator-indikator diatas tak heran ketika Muhamad Abduh melawat ke Prancis akhirnya dia berkomentar :

“Saya tidak melihat Muslim disini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya di Mesir saya melihat begitu banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”.

Pengalaman serupa dirasakan Professor Afif Muhammad ketika berkesempatan ke Kanada yang merupakan negara paling islami no 5.

Beliau heran melihat penduduk disana yang tak pernah mengunci pintu rumahnya.
Saat salah seorang penduduk ditanya tentang hal ini, mereka malah balik bertanya : “mengapa harus dikunci ?”

Di kesempatan lain, masih di Kanada, seorang pimpinan ormas Islam besar pernah ketinggalan kamera di halte bis.
Setelah beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera masih tersimpan dengan posisi yang tak berubah.

Sungguh ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di negeri muslim yang sendal jepit saja bisa hilang di rumah Allah yang Maha Melihat.
Padahal jelas-jelas kata “iman” sama akar katanya dengan aman.

Artinya, jika semua penduduk beriman, seharusnya bisa memberi rasa aman.

Penduduk Kanada menemukan rasa aman padahal (mungkin) tanpa iman.
Tetapi kita merasa tidak aman ditengah orang-orang yang (mengaku) beriman.

Seorang teman bercerita, di Jerman, seorang ibu marah kepada seorang Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah :

“Saya mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat aturan, hari ini Anda menghancurkannya.
Anak saya ini melihat Anda melanggar aturan, dan saya khawatir dia akan meniru Anda”.

Sangat kontras dengan sebuah video di Youtube yang menayangkan seorang bapak di Jakarta dengan pakaian jubah dan sorban naik motor tanpa helm.
Ketika ditangkap polisi karena melanggar, si bapak tersebut malah marah dengan menyebut-nyebut bahwa dirinya habib.

Mengapa kontradiksi ini terjadi ?

Syaikh Basuni, ulama Kalimantan, pernah berkirim surat kepada Muhamad Rashid Ridha, ulama terkemuka dari Mesir.

Suratnya berisi pertanyaan :
“Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama ghairuhum ?”
(“Mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju?”)

Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu.

Inti dari jawaban Rasyid Ridha, Islam mundur karena meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya.

Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran ‘iqro’ (membaca) dan cinta ilmu.

Tidak aneh dengan situasi seperti itu, Indonesia saat ini menempati urutan ke-111 dalam hal tradisi membaca.

Muslim juga meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-begara Muslim terpuruk di kategori ‘low trust society’ yang masyarakatnya sulit dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga.

Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam, karena itu jangan heran jika kita melihat mobil-mobil mewah di kota-kota besar tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya.
Siapa yang salah ?

Mungkin yang salah yang membuat ‘survey’…

Seandainya keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama’ah hajinya pastilah Indonesia ada di ranking pertama.

Wallahualam

Sumber: Anonim

Published in: on November 16, 2016 at 7:28 am  Leave a Comment  

5 FITRAH (KESUCIAN) MANUSIA

5 Fitrah (Kesucian) Manusia

Rasulullah SAW bersabda, “Fitrah (kesucian) manusia ada lima: dikhitan, mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (tangan dan kaki), serta mencabut bulu ketiak.”

(Hadits Riwayat Bukhari)

BUKAN KEFAKIRAN TETAPI KEMEGAHAN

Imam Bukhari

Bukan Kefakiran tetapi kemegahan dunia yang membinasakan

“Demi Allah, bukanlah kefakiran (dan kemiskinan) yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku justru khawatir kalau-kalau kemegahan dunia yang kalian dapatkan sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula”.

(Imam Bukhari)

Published in: on January 15, 2010 at 6:13 am  Comments (1)  
Tags: , , ,

PADA DIRIMU

Ali bin Abi Thalib R.A.

Pada Dirimu

“Obatmu ada pada dirimu, tetapi tidak kamu sadari. Penyakitmu datang dari dirimu, tetapi kamu tidak waspadai. Kamu menganggap dirimu suatu bentuk yang kecil, padahal pada dirimu terkumpul seluruh alam raya.”

Ali bin Abi Thalib R.A.

Published in: on January 11, 2010 at 3:06 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , ,

COBAAN KEBAIKAN & KEBURUKAN

Buku Misteri Kebaikan & Keburukan

Ujian Kebaikan & Keburukan

… Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.

(QS Al-Anbiyaa: 35)

Published in: on January 4, 2010 at 11:26 am  Leave a Comment  
Tags: , ,

KESEMPURNAAN ISLAM

Kesempurnaan Islam Seseorang

Kesempurnaan Islam Seseorang

Abu Huraira R.A. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Termasuk kesempurnaan Islam seseorang, yaitu ia meninggalkan yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”

(HR At-Tirmidzi)

KESENANGAN VS KESUSAHAN

Kesenangan vs Kesusahan

Suatu ketika, Abu Bakar R.A. berkata, “Tidakkah kalian lihat bahwa ketika Allah menyebutkan ayat-ayat yang berisi tentang kesenangan, Dia juga menggandengkannya dengan ayat-ayat yang berisi tentang kesusahan. Begitupun sebaliknya, ayat-ayat yang berisi tentang kesusahan digandengkan dengan ayat-ayat yang berisi tentang kesenangan. Semua itu agar menjadi pemicu dan pelecut bagi orang mukmin. Janganlah sekali-kali berangan-angan kepada Allah kecuali dengan kebenaran  dan jangan lemparkan dirimu dalam kebinasaan.”

(Sumber: Buku THE GREAT LEADER, Kisah Khulafaur Rasyidin)

LUPA DAN AL-QURAN

Lupa di Otak

LUPA DAN AL-QURAN

Diantara problem yang dihadapi manusia ialah seringnya lupa. Ini, kadang-kadang menimbulkan akibat yang buruk baginya dan seringkali menghalanginya dalam mempersiapkan diri guna menghadapi problem-problem kehidupan. Lupa banyak dikemukakan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Apabila ayat-ayat itu ditelaah dan dikaji pengertian yang terkandung di dalamnya, maka akan tampak bagi kita bahwa lupa yang terdapat dalam ayat-ayat itu mempunyai berbagai pengertian yang bisa diikhtisarkan sebagai berikut:

a. Lupa yang terjadi pada benak mengenai berbagai peristiwa, nama seseorang, dan informasi yang diperoleh seseorang sebelumnya.

Ini merupakan lupa normal yang menimpa seseorang akibat bertimbun dan berjalinnya informasi-informasi yang ada. Jenis lupa ini telah dikaji oleh para ahli ilmu jiwa dengan secara mendalam dan menurut mereka lupa ini terjasi akibat interferensi informasi. Mereka mengklasifikasikan interferensi menjadi dua jenis: “interferensi retroaktif” dan “interferensi lanjut”. Interferensi retroaktif terjadi ketika kita belajar materi-materi baru yang membuat melemahnya ingatan kita akan materi-materi yang telah kita pelajari sebelumnya. Interferensi lanjut terjadi akibat pengaruh kebiasaan, kegiatan, dan informasi lama kita dalam mengingat materi yang baru kita pelajari. Banyaknya informasi dan kegiatan sebelumnya membuat sulitnya kita untuk mengingat materi yang kita pelajari belakangan. Sementara ingatan kita terhadap materi baru itu akan lebih baik apabila informasi dan kegiatan kita lebih sedikit. Oleh karena itu, anak-anak lebih mampu untuk mengingat detail-detail berbagai peristiwa pada masa lalu ketimbang orang dewasa. Dalam al-Qur’an, jenis lupa ini diisyaratkan dalam firman Allah:

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepdamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” (QS, al-A’la, 87:6).

b. Lupa yang mengandung makna lalai.

Misalnya seseorang meninggalkan sesuatu di suatu tempat. Atau ia hendak berbincang-bincang dengan seseorang tentang berbagai hal, namun ia hanya ingat sebagiannya dan lupa sebagian lainnya, dan baru ingat kemudiannya. Sebagai contoh, ialah kisah tentang murid Musa as dalam firman-Nya:

“Muridnya menjawab:“Tahukan kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali” (QS, Al-Kahfi, 18:63)

Contoh lainnya ialah ucapan Musa as pada hamba Allah yang shaleh:

“…Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku…” (QS, al-Kahfi, 18:73).

Jenis lupa ini bisa diinterpretasikan sebagai interferensi lanjut yang telah dikemukakan dimuka.

c. Lupa dengan pengertian hilangnya perhatian terhadap sesuatu hal.

Contohnya ialah apa yang terkandung dalam firman Allah berikut:

“…Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka…” (QS, at-Taubah, 9:67).

Pengertian “mereka telah lupa kepada Allah” ialah mereka meninggalkan ketaatan kepada-Nya akibat hilangnya perhatian mereka kepada perintah-perintah-Nya. Dan pengertian “maka Allah melupakan mereka” ialah Allah mengalihkan karunia-Nya dari mereka dan menterlantarkan mereka.

Contoh lain dari jenis lupa ini ialah apa yang terkandung dalam firman Allah yang berikut:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri…” (QS, al-Hasyr, 59:19).

Masuk dalam pengertian ini adalah lupa yang diatributkan pada Adam as dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat” (QS, Thaha, 20:115).

Ini mengandung arti bahwa Adam as “telah lalai tentang perjanjian dengan Allah”. Akibatnya, ia pun lupa akan larangan Allah. Maka, syetan pun menggodanya dan menjerumuskannya dalam kesalahan.

LUPA DAN SYETAN

Menurut sebagian ayat al-Qur’an, syetan melihat bakat manusia untuk lupa sebagai jalan untuk mempengaruhinya. Bakat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal penting yang bermanfaat bagi dirinya. Pun kadang-kadang membuatnya lalai akan Allah dan mengabaikan perintah-perintah-Nya. Di muka telah dikemukakan, dalam uraian tentang lupa yang timbul dari kelalaian, ayat yang mengemukakan tentang murid Musa as yang lupa akan ikannya dan berkata: “dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan”. Sebagai contoh lainnya adalah ayat-ayat berikut:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah adanya peringatan (kepadamu)”. (QS, al-An’am, 6:68).

“Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi” (QS, al-Mujadalah, 58:19).

“Dan yusuf berkata kepada orang yang diperkirakannya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syetan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (QS, Yusuf, 12:42).

Cara syetan menggoda manusia dan mendorongnya lupa akan Allah, dan akan kebaikan dan kemanfaatan bagi dirinya pada umumnya, adalah dengan mempengaruhi dorongan dan hawa nafsunya. Ini memang merupakan titik kelemahan manusia. Sebab, secara alamiah manusia cenderung untuk memenuhi dorongan-dorongannya dan merasakan kelezatan dan kenikmatan. Dari aspek inilah Iblis berhasil menggoda Adam as. Iblis menawarkan kepadanya keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa, apabila ia mau makan buah pohon larangan. Ini membuat Adam lupa akan larangan Allah dan terjerumus dalam kesalahan. Dengan cara yang sama, syetan mempengaruhi semua manusia ketika pada diri mereka dibangkitkannya hawa nafsu mereka yang membuat mereka terjerat olehnya dan lalai akan Allah:

“dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing: jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)…” (QS, al-A’raf, 7:175-176).

TERAPI LUPA DALAM AL-QUR’AN

Terapi lupa yang timbul akibat kelalaian akan Allah adalah dengan ingat terus-menerus akan Dia, nikmat dan karunia-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan-ciptaan-Nya, akhirat, dan hari perhitungan. Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan pentingnya ingat pada Allah sebagai terapi bagi jenis lupa ini. Ini tampak jelas dari firman-Nya:

“…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…” (QS, al-Kahfi, 18:24).

Lebih jauh lagi, al-Qur’an memuji orang-orang beriman yang selalu ingat akan Allah. Dan mereka ini diberi atribut sebagai orang-orang yang berakal:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS, Ali Imran, 3:190-191).

Oleh karena ingat Allah merupakan terapi bagi lupa dan kelalaiannya hati, maka Allah memerintahkan kita untuk banyak mengingat-Nya, baik siang maupun malam, pagi dan sore:

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (qs, al-Ahzab, 33:41-42).

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS, an-Nisa‘, 4:103).

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS, aal-Jum’ah, 62:10)

Terapi kelupaan manusia akan Allah dan kelalainnya akan akhirat, dengan demikian, adalah dengan cara ingat akan Allah secara terus-menerus. Sehingga Allah hadir dalam hatinya secara terus-menerus, sekejappun tidak pernah hilang. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip belajar, yang telah dikemukakan di muka, yaitu pengulangan. Pengulangan ingat akan Allah biasanya akan membentuk kebiasaan bagi seseorang untuk selalu ingat dan memuji Allah. Sehingga kebiasaan inipun menjadi mapan dan terpancang kuat dalam tingkah lakunya dan setiap saat selalu timbul tanpa upaya apapun. Allah pun, dengan demikian, menjadi selalu hadir dalam kalbunya. Ini adalah keadaan yang ingin diusahakan tercapainya oleh para sufi, dengan jalan mengulang-ulang latihan dan riadhah rohaniah.

Karena al-Qur’an adalah kitab aqidah, dan bukannya tentang ilmu pengetahuan, maka wajarlah bila ia menaruh perhatian terhadap problem kelupaan dan kelalaian manusia akan Allah dan akhirat, juga kepada terapinya. Sebab hal ini penting bagi kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun akhirat. Apabila prinsip yang dipakai untuk terapi jenis lupa ini adalah dengan pengulangan ingat akan Allah, hingga kebiasaan ini menjadi mapan dan terpancang kuat pada tingkah laku seseorang, maka dari sini dapat pula kita ikhtisarkan terapi bagi kelupaan kita yang biasa tentang informasi-informasi dan data-data, yang bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis seperti telah dikemukakan di muka. Terapi yang dipakai ialah dengan mengulang-ulang informasi dan data itu. Dengan kata lain dengan menelaah dan mempelajarinya berkali-kali. Ini merupakan hal yang telah dibahas oleh para ahli ilmu jiwa modern, namun perhatian mereka baru terbatas pada pengkajian dua jenis lupa yang telah disebutkan di atas saja dan mereka tidak berusaha mengadakan pengkajian terhadap jenis ketiga yang terdapat di dalam al-Qur’an seperti yang telah diuraikan di atas.

(Sumber: Al-Quran dan Ilmu Jiwa)

Published in: on December 9, 2009 at 10:05 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , , ,

BERQURBAN UNTUK APA/SIAPA?

Presiden-Wapres RI Berkurban

BERKURBAN

Kita rela berkorban untuk orang tua kita…

Orang tua rela berkorban untuk anaknya…

Suami/Istri rela berkorban untuk pasangannya…

Seseorang rela berkorban untuk teman akrabnya…

Anak muda rela berkorban untuk pacar tercintanya…

Pegawai PNS rela berkorban untuk negara…

Karyawan swasta rela berkorban untuk perusahaannya…

Bahkan kita rela berkorban untuk hal-hal yang tidak perlu…

Mengapa masih banyak orang yang kaya harta masih belum rela (apalagi ikhlas) untuk berkurban kepada Allah SWT (Sang Pencipta kita) dengan mengeluarkan uang minimal 1 juta (lebih sedikit) untuk membeli seekor kambing yang paling kecil tapi masih layak kurban?

Mengapa Orang Berkurban?

  • Memiliki cukup uang/harta
  • Memiliki penghayatan yang tinggi terhadap nilai-nilai berkurban
  • Memiliki ketaqwaan dan keimanan yang kuat kepada Allah SWT (Yang Maha Pencipta, Maha Kuasa, dll)
  • Rela dan ikhlas karena perintah Allah SWT dalam berkurban – “Istiqamah”.
  • Supaya orang lain (masyarakat) menilainya sebagai orang yang mampu (kaya).
  • Supaya orang lain (masyarakat) menilainya sebagai orang yang baik (dermawan) dan memiliki nilai-nilai agama (ketaqwaan) yang tinggi.
  • Terpaksa atau dipaksa oleh orang lain (Ustadz, Pengurus Masjid, Orangtua, Saudara, teman atau bahkan anak sendiri).

Mengapa Orang Tidak Berkurban?

  • Tidak memiliki cukup uang/harta
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi lupa untuk berkurban
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak sempat berkurban karena kesibukan.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak merasa berkewajiban untuk berkurban.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak merasa berkewajiban berkurban hewan di Idul Adha lagi karena selama ini sudah banyak membantu kaum duafa dalam hal-hal lain selain berkurban.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak/belum rela memberikan uang/hartanya kepada orang lain karena akan mengurangi jumlah kekayaannya.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak/belum mau berkurban karena masih ada keperluan lain yang penting seperti membantu orang tua atau saudara yang kurang mampu secara ekonomi.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak/belum mau berkurban karena akan mengurangi jumlah tabungannya untuk menunaikan ibadah haji.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak bersedia meninggalkan pekerjaan/jabatannya karena khawatir diambil alih (digantikan) oleh orang lain.
  • Memiliki cukup uang/harta tetapi tidak bersedia meninggalkan pekerjaan/jabatannya karena khawatir hal-hal yang selama ini ditutup-tutupi (kecurangan, korupsi, dll) bisa diketahui dan terbongkar.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita UANG/HARTA yang cukup/melimpah dan IMAN yang kuat agar kita menjadi “istiqamah” kepada Allah SWT sehingga senantiasa bisa berkurban di setiap IDUL ADHA, amin…

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Published in: on November 29, 2009 at 2:06 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , , , , ,