MANA IBUNYA… KOK GAK DATANG?

MANA IBUNYA… KOK GAK DATANG?

Pada tahun 1993 ketika aku dan suamiku yang baru saja menikah pindah dari rumah orangtuaku untuk menempati rumah baru kami di bilangan Bekasi ada kejadian yang menggelikan. Kejadian itu berawal ketika aku pertama kali mencoba memenuhi undangan untuk ikut arisan dengan ibu-ibu di lingkungan RT tempat tinggalku yang baru. Ketika aku masuk ke rumah salah satu tetangga yang menjadi tuan rumah arisan, ada seorang ibu yang bertanya “mana ibunya… kok gak datang?”. Maka dengan perasaan masih kaget tidak menyangka ditanya demikian, aku menjawab “ibunya adalah saya sendiri Bu…”. Hampir serentak mereka sekarang yang terkaget-kaget sambil nyeletuk “Kok masih muda ya… emang kawin muda ya…?”. Dengan perasaan yang antusias aku menjelaskan bahwa usiaku sekarang 26 tahun. Hampir serentak mereka nyeletuk “kelihatan lebih muda ya…” Bahkan ada yang menambahkan nyeletuk “seperti masih di bawah 20 tahun aja…”. Aku hanya tersenyum-senyum ge’er sambil di dalam hati mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Sang Pencipta.

(Benarkah Aku Terlihat Lebih Muda)

Published in: on December 12, 2009 at 4:59 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

SAYA INGIN BERSAHABAT

Kita Hanya Bisa Bersahabat

Sayang… hari ini saya ulang tahun ke-21, kamu ingat? Pasti kamu kasih ucapan selamat deh (Apa iya?) Makasih deh… Semoga apa nih, Yang?

Sayang… soal yang kemaren itu ngga usah kita permasalahkan lagi ya… (walaupun sebenarnya saya pengen banget ngomong2 lagi). Mudah-mudahan itu bisa jadi input buat saya dan kamu. Lucu juga kalau saya piker-pikir, kita bisa cepat dekat tanpa pengenalan lebih lanjut, ‘sok akrab ya’?

Ternyata tidak sedikit perbedaan di antara kita. Kamu sudah salah menduga tentang saya, begitu juga saya. Kamu suka cewek yang mandiri, sementara saya butuh pelindung. Kamu ngga terlalu suka cewek yang feminin, saya justru ingin tampil feminin, dalam sikap terutama. Kamu suka cewek yang riang, ceria. Saya pada dasarnya bukan orang yang periang, biasa-biasa aja. Saya sendiri suka sama cowok yang dewasa tapi suka humor (tergantung situasi).

Sayang… pada dasarnya saya ingin bersahabat dengan kamu. Kamu tidak usah khawatir saya akan melangkah ke arah yang lebih lanjut, itu tidak akan terjadi, karena di antara kita ada satu sekat yang terlalu tebal untuk ditembus. Tugas utama kita belajar, bukan? Janji kita adalah IP harus naik! Ok?

Nah… saya akan berusaha untuk mengetahui, memahami dan mengerti siapa dan bagaimana kamu itu… kamu ke saya juga ya!

Ini nama asli di akte lahir saya:

“A… A… P… S… W… W…” cukup?

(Surat dari Seorang Gadis: 8 Maret 2006)

Published in: on December 9, 2009 at 11:38 am  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

LUPA DAN AL-QURAN

Lupa di Otak

LUPA DAN AL-QURAN

Diantara problem yang dihadapi manusia ialah seringnya lupa. Ini, kadang-kadang menimbulkan akibat yang buruk baginya dan seringkali menghalanginya dalam mempersiapkan diri guna menghadapi problem-problem kehidupan. Lupa banyak dikemukakan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Apabila ayat-ayat itu ditelaah dan dikaji pengertian yang terkandung di dalamnya, maka akan tampak bagi kita bahwa lupa yang terdapat dalam ayat-ayat itu mempunyai berbagai pengertian yang bisa diikhtisarkan sebagai berikut:

a. Lupa yang terjadi pada benak mengenai berbagai peristiwa, nama seseorang, dan informasi yang diperoleh seseorang sebelumnya.

Ini merupakan lupa normal yang menimpa seseorang akibat bertimbun dan berjalinnya informasi-informasi yang ada. Jenis lupa ini telah dikaji oleh para ahli ilmu jiwa dengan secara mendalam dan menurut mereka lupa ini terjasi akibat interferensi informasi. Mereka mengklasifikasikan interferensi menjadi dua jenis: “interferensi retroaktif” dan “interferensi lanjut”. Interferensi retroaktif terjadi ketika kita belajar materi-materi baru yang membuat melemahnya ingatan kita akan materi-materi yang telah kita pelajari sebelumnya. Interferensi lanjut terjadi akibat pengaruh kebiasaan, kegiatan, dan informasi lama kita dalam mengingat materi yang baru kita pelajari. Banyaknya informasi dan kegiatan sebelumnya membuat sulitnya kita untuk mengingat materi yang kita pelajari belakangan. Sementara ingatan kita terhadap materi baru itu akan lebih baik apabila informasi dan kegiatan kita lebih sedikit. Oleh karena itu, anak-anak lebih mampu untuk mengingat detail-detail berbagai peristiwa pada masa lalu ketimbang orang dewasa. Dalam al-Qur’an, jenis lupa ini diisyaratkan dalam firman Allah:

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepdamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” (QS, al-A’la, 87:6).

b. Lupa yang mengandung makna lalai.

Misalnya seseorang meninggalkan sesuatu di suatu tempat. Atau ia hendak berbincang-bincang dengan seseorang tentang berbagai hal, namun ia hanya ingat sebagiannya dan lupa sebagian lainnya, dan baru ingat kemudiannya. Sebagai contoh, ialah kisah tentang murid Musa as dalam firman-Nya:

“Muridnya menjawab:“Tahukan kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali” (QS, Al-Kahfi, 18:63)

Contoh lainnya ialah ucapan Musa as pada hamba Allah yang shaleh:

“…Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku…” (QS, al-Kahfi, 18:73).

Jenis lupa ini bisa diinterpretasikan sebagai interferensi lanjut yang telah dikemukakan dimuka.

c. Lupa dengan pengertian hilangnya perhatian terhadap sesuatu hal.

Contohnya ialah apa yang terkandung dalam firman Allah berikut:

“…Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka…” (QS, at-Taubah, 9:67).

Pengertian “mereka telah lupa kepada Allah” ialah mereka meninggalkan ketaatan kepada-Nya akibat hilangnya perhatian mereka kepada perintah-perintah-Nya. Dan pengertian “maka Allah melupakan mereka” ialah Allah mengalihkan karunia-Nya dari mereka dan menterlantarkan mereka.

Contoh lain dari jenis lupa ini ialah apa yang terkandung dalam firman Allah yang berikut:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri…” (QS, al-Hasyr, 59:19).

Masuk dalam pengertian ini adalah lupa yang diatributkan pada Adam as dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat” (QS, Thaha, 20:115).

Ini mengandung arti bahwa Adam as “telah lalai tentang perjanjian dengan Allah”. Akibatnya, ia pun lupa akan larangan Allah. Maka, syetan pun menggodanya dan menjerumuskannya dalam kesalahan.

LUPA DAN SYETAN

Menurut sebagian ayat al-Qur’an, syetan melihat bakat manusia untuk lupa sebagai jalan untuk mempengaruhinya. Bakat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal penting yang bermanfaat bagi dirinya. Pun kadang-kadang membuatnya lalai akan Allah dan mengabaikan perintah-perintah-Nya. Di muka telah dikemukakan, dalam uraian tentang lupa yang timbul dari kelalaian, ayat yang mengemukakan tentang murid Musa as yang lupa akan ikannya dan berkata: “dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan”. Sebagai contoh lainnya adalah ayat-ayat berikut:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah adanya peringatan (kepadamu)”. (QS, al-An’am, 6:68).

“Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi” (QS, al-Mujadalah, 58:19).

“Dan yusuf berkata kepada orang yang diperkirakannya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syetan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (QS, Yusuf, 12:42).

Cara syetan menggoda manusia dan mendorongnya lupa akan Allah, dan akan kebaikan dan kemanfaatan bagi dirinya pada umumnya, adalah dengan mempengaruhi dorongan dan hawa nafsunya. Ini memang merupakan titik kelemahan manusia. Sebab, secara alamiah manusia cenderung untuk memenuhi dorongan-dorongannya dan merasakan kelezatan dan kenikmatan. Dari aspek inilah Iblis berhasil menggoda Adam as. Iblis menawarkan kepadanya keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa, apabila ia mau makan buah pohon larangan. Ini membuat Adam lupa akan larangan Allah dan terjerumus dalam kesalahan. Dengan cara yang sama, syetan mempengaruhi semua manusia ketika pada diri mereka dibangkitkannya hawa nafsu mereka yang membuat mereka terjerat olehnya dan lalai akan Allah:

“dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing: jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)…” (QS, al-A’raf, 7:175-176).

TERAPI LUPA DALAM AL-QUR’AN

Terapi lupa yang timbul akibat kelalaian akan Allah adalah dengan ingat terus-menerus akan Dia, nikmat dan karunia-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan-ciptaan-Nya, akhirat, dan hari perhitungan. Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan pentingnya ingat pada Allah sebagai terapi bagi jenis lupa ini. Ini tampak jelas dari firman-Nya:

“…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…” (QS, al-Kahfi, 18:24).

Lebih jauh lagi, al-Qur’an memuji orang-orang beriman yang selalu ingat akan Allah. Dan mereka ini diberi atribut sebagai orang-orang yang berakal:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS, Ali Imran, 3:190-191).

Oleh karena ingat Allah merupakan terapi bagi lupa dan kelalaiannya hati, maka Allah memerintahkan kita untuk banyak mengingat-Nya, baik siang maupun malam, pagi dan sore:

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (qs, al-Ahzab, 33:41-42).

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS, an-Nisa‘, 4:103).

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS, aal-Jum’ah, 62:10)

Terapi kelupaan manusia akan Allah dan kelalainnya akan akhirat, dengan demikian, adalah dengan cara ingat akan Allah secara terus-menerus. Sehingga Allah hadir dalam hatinya secara terus-menerus, sekejappun tidak pernah hilang. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip belajar, yang telah dikemukakan di muka, yaitu pengulangan. Pengulangan ingat akan Allah biasanya akan membentuk kebiasaan bagi seseorang untuk selalu ingat dan memuji Allah. Sehingga kebiasaan inipun menjadi mapan dan terpancang kuat dalam tingkah lakunya dan setiap saat selalu timbul tanpa upaya apapun. Allah pun, dengan demikian, menjadi selalu hadir dalam kalbunya. Ini adalah keadaan yang ingin diusahakan tercapainya oleh para sufi, dengan jalan mengulang-ulang latihan dan riadhah rohaniah.

Karena al-Qur’an adalah kitab aqidah, dan bukannya tentang ilmu pengetahuan, maka wajarlah bila ia menaruh perhatian terhadap problem kelupaan dan kelalaian manusia akan Allah dan akhirat, juga kepada terapinya. Sebab hal ini penting bagi kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun akhirat. Apabila prinsip yang dipakai untuk terapi jenis lupa ini adalah dengan pengulangan ingat akan Allah, hingga kebiasaan ini menjadi mapan dan terpancang kuat pada tingkah laku seseorang, maka dari sini dapat pula kita ikhtisarkan terapi bagi kelupaan kita yang biasa tentang informasi-informasi dan data-data, yang bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis seperti telah dikemukakan di muka. Terapi yang dipakai ialah dengan mengulang-ulang informasi dan data itu. Dengan kata lain dengan menelaah dan mempelajarinya berkali-kali. Ini merupakan hal yang telah dibahas oleh para ahli ilmu jiwa modern, namun perhatian mereka baru terbatas pada pengkajian dua jenis lupa yang telah disebutkan di atas saja dan mereka tidak berusaha mengadakan pengkajian terhadap jenis ketiga yang terdapat di dalam al-Qur’an seperti yang telah diuraikan di atas.

(Sumber: Al-Quran dan Ilmu Jiwa)

Published in: on December 9, 2009 at 10:05 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , , ,

IQ TINGGI, ORANGTUA BANGGA !!!

Anak Cerdas di Sekolah

Kita bangga bahkan sangat bangga ketika mengetahui anak kita memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi atau (sangat) cerdas, katakan 130, 135 bahkan di atas 140. Apakah kebanggaan kita ini beralasan… mungkin benar karena sebagian besar anak-anak lain yang memiliki IQ berkisar antara skor 90 sampai 110 (Taraf IQ Rata-Rata). Mungkin kita patut bersyukur (bukan berbangga) karena anak kita dianugerahi tingkat kecerdasan yang tinggi (kalau psikolognya tidak salah hitung – fatal jadinya). Akan tetapi lalu kita bertanya, apakah dengan IQ yang tinggi tersebut akan menjamin masa depannya lebih baik atau setidaknya memiliki prestasi sekolah yang menonjol dibanding anak lain yang memiliki taraf IQ rata-rata sebagaimana kebanyakan anak lain? Kita mulai ragu karena cukup banyak orangtua yang menemui kenyataan bahwa anak mereka yang memiliki IQ tinggi ternyata prestasinya biasa-biasa saja bahkan sebaliknya malah prestasinya ‘parah’. Jadi bagaimana sebenarnya hubungan antara IQ dengan prestasi belajar di sekolah anak?

Menurut para ahli psikologi, prestasi belajar siswa di sekolah tidak secara dominan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa, akan tetapi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor kemauan/motivasi atau komitmen belajar siswa, lingkungan sosial di sekolah maupun di rumah, dan lingkungan atau kondisi fisik yang berkaitan dengan prestasi belajar anak.

Anak kita bisa saja (sangat) cerdas, tetapi ia akan sulit berprestasi belajar bagus kalau dia tidak/kurang memiliki kemauan/motivasi atau komitmen belajar. Anak kita boleh saja (sangat) cerdas, tetapi ia akan sulit menunjukkan prestasi belajar yang baik di sekolah apabila tidak ditunjang oleh lingkungan sosial yang baik, seperti guru-guru yang kompeten, teman-teman yang berorientasi pada pelajaran (bukan main-main) dan begitu pula dengan bagaimana orientasi belajar dari orangtua, saudara-saudaranya, bahkan teman-teman di lingkungan tetangga tempat tinggalnya.

Demikian pula halnya dengan prestasi belajar yang akan sulit diperoleh oleh anak-anak (sangat) cerdas yang meskipun memiliki komitmen belajar baik, lingkungan sosial yang mendukung baik di sekolah maupun di rumah, namun tidak didukung oleh lingkungan fisik yang memadai. Jarang sekali kita temui anak-anak memiliki prestasi belajar baik muncul dari kondisi bangunan sekolah yang rusak dan lokal kelas yang terbatas sehingga menyebabkan waktu belajar mereka terganggu; sarana dan fasilitas belajar-mengajar (buku, alat tulis, alat peraga, dan lainnya) yang terbatas sehingga kecepatan belajar sangat lambat; anak yang harus berjalan kaki sekian jauh dan lama karena jarak rumah mereka jauh dari sekolah.

Dengan demikian, IQ yang tinggi baru akan menjamin prestasi belajar anak kita di sekolah atau menjamin masa depan yang baik apabila juga didukung oleh kemauan/motivasi atau komitmen belajar yang baik serta lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang baik di sekolah maupun di rumah.

Semakin tinggi taraf IQ seorang anak maka akan semakin cepat dan mudah untuk mencapai prestasi belajarnya di sekolah. Sebaliknya, semakin rendah taraf IQ seorang anak maka akan semakin sulit dan lama untuk mempelajari dan memahami sesuatu hal termasuk dalam pelajaran sekolahnya.

Namun bagi orangtua yang kebetulan memiliki anak dengan IQ tidak tinggi (tidak cerdas) janganlah berkecil hati, karena para pakar ilmu psikologi mengatakan bahwa IQ (kecerdasan logical-mathematical) hanyalah salah satu dari sekian banyak jenis kecerdasan (Multiple Intelligence). Memang anak kita memiliki IQ yang tidak tinggi, tetapi mungkin ia memiliki jenis kecerdasan lain yang tinggi, misalnya: kecerdasan emosi/intra-intra personal (emotional intelligence), kecerdasan bodily-kinesthetic (bidang olahraga), kecerdasan linguistic (bahasa), kecerdasan musical (musik), kecerdasan spatial (melukis), kecerdasan naturalist, bahkan kecerdasan universal (universal intelligence). Buktinya, ada Rudy Hartono (olahragawan), Rudy Rudy Hadisuwarno (Penata Rambut), Rudy Chaerudin (Jago Masak), Rudy Wowor (Bintang Film/Sinetron), yang kesemuanya pasti belum tentu memiliki IQ yang tinggi.

Selain itu, dari hasil penelitian terhadap para pengusaha sukses di Amerika Serikat ternyata tidak semua dari mereka memiliki IQ yang tinggi. Namun ada aspek-aspek yang selalu tinggi/menonjol dari mereka yaitu kematangan emosi, kemampuan interpersonal, kemampuan empati, dan lainnya yang berkaitan dengan kecerdasan emosi (emotional intelligence).

Oleh karena itu bapak dan ibu, janganlah berbangga berlebihan apabila anak kita memiliki anak ber-IQ tinggi dan sebaliknya janganlah bersedih atau berkecil hati memiliki anak ber-IQ tidak tinggi. Semuanya lebih bergantung pada bagaimana kita menemukan bakat/potensinya dan bagaimana kita menyiapkan lahan yang subur agar dapat teraktualisasi menjadi prestasi yang membanggakan orangtua – yaitu perasaan bangga yang pantas diterima orangtuanya bukan perasaan bangga yang semu sebagaimana yang dialami orangtua kebanyakan selama ini…

KASUS GANTUNG DIRI

Gantung Diri

KASUS GANTUNG DIRI

Di dalam sebuah ruangan besar yang tertutup rapat, terdapat sesosok tubuh tergantung setinggi 50 cm dari permukaan lantai, tepat ditengah ruangan dengan tali yang kencang ke arah tiang diatasnya dan ujung tali lainnya melingkari lehernya.

Ruangan tersebut merupakan sebuah gudang yang sudah kosong tanpa terdapat benda apapun di dalamnya kecuali genangan-genangan air di beberapa tempat.

Ketika sekelompok orang berdatangan untuk mengevakuasinya, mereka terlihat sama-sama heran dan bingung melihat kondisi tersebut. Mereka semua mempunyai pertanyaan yang sama yaitu dengan alat bantu apakah (selain tali dan tiang) orang tersebut melaksanakan niatnya dengan sukses hingga dapat meninggal secara tergantung???”

Published in: on December 6, 2009 at 3:05 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

KASUS PAK ANTONI

Supervisor Pabrik

KASUS PAK ANTONI

Pak Antoni baru saja dipindahkan dan diangkat menjadi Supervisor Operator di sebuah perusahaan yang terletak di jantung kota metropolitan. Saat ini atasanya adalah Pak Ferry, seorang manajer yang cukup berpengalaman. Namun di tempatnya yang baru ini, Pak Antoni menemui beberapa masalah. Secara umum, bawahan-bawahannya memang cukup bisa bekerja sama. Namun beberapa diantaranya memiliki masalah. Misalnya saja, Pak Andi yang sebetulnya adalah seorang pekerja yang cukup mampu mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, tetapi ia kurang yakin akan dirinya dan setiap menemui hambatan harus selalu meminta bantuannya. Kemudian, Ibu Betty yang kurang teliti dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Di sisi lain, Pak Ferry juga mengeluhkan Pak Antoni. Menurutnya, Pak Antoni adalah seorang atasan yang kurang mampu mendisiplinkan bawahannya dan terkesan tidak ada yang dikerjakan. Menurut Pak Ferry, Pak Antoni selalu melempar tanggung jawab pada bawahannya. Merekalah yang harus merencanakan pekerjaan dan mengatasi masalahnya sendiri. Menurutnya, hal tersebut adalah tidak pada tempatnya. Ia berpendapat bahwa pimpinan yang baik seharusnya mengetahui apa yang hendaknya dicapainya dan kemudian menjelaskannya kepada bawahannya secara terinci. Pak Ferry berpendapat bahwa pengalaman Pak Antoni di tempat sebelumnya tidak banyak berperan. Pak Antoni kurang berinisiatif, selalu menghendaki setiap kebijakan yang ada disertai dengan prosedur serta arahan yang dijabarkan secara terinci sehingga dengan demikian tidak terjadi kesalahan. Menurut Pak Ferry, apabila ia harus melakukan sesuatu seperti yang diharapkan Pak Antoni maka lebih baik ia tidak memerlukan kehadiran seorang supervisor.

Pertanyaan :

  1. Masalah apa yang sebenarnya terjadi di tempat kerja Pak Antoni?
  2. Andaikata anda berperan sebagai Pak Ferry, tindakan apa yang sebaiknya anda lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
Published in: on December 6, 2009 at 2:34 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

KASUS REKRUTMEN SALES

Sales (Tenaga Penjual)

KASUS REKRUTMEN SALES

Rendy adalah seorang Manajer Penjualan di suatu perusahaan produk teknologi tinggi yang besar dimana situasi bisnisnya sangat kompetitif. Saat ini Rendy sedang merasa berada pada situasi yang sangat tidak nyaman. Penjualan divisinya terus menurun dalam enam bulan terakhir ini dan atasannya memberi takanan yang kuat pada dirinya agar meningkatkan lagi penjualan divisinya. Sebulan terakhir ini rendi sudah melakukan survey ke banyak daerah, terjun langsung menjadi Sales untuk memperkuat jajaran tenaga penjualannya, dan tiga hari yang lalu ia telah mewawancarai seorang kandidat Sales yang tampaknya “menjanjikan”.

Rendy ingat bahwa begitu ia memandang sang kandidat memasuki ruang kantornya, ia langsung merasakan kesan bahwa inilah orang yang ia butuhkan untuk divisinya. Selanjutnya, selama proses wawancara berlangsung Rendy merasa semakin terkesan dan merasa beruntung bahwa ia telah “menemukan” orang ini. Kandidat tersebut memiliki prestasi yang mengagumkan sebagai penjual dan sangat mengetahui produk industri teknologi tinggi. Yang lebih menarik lagi, kandidat tersebut baru saja berhenti dari perusahaan pesaing utama perusahaan tempat Rendy bekerja, dengan masa kerja selama 6 tahun yang penuh keberhasilan. Rendy semakin merasa bahwa kualifikasi kandidat tersebut mengalahkan seluruh kandidat lainnya yang pernah ia wawancarai. Rendy sudah berpikiran untuk memperkerjakan kandidat tersebut (yang rencananya akan ia katakan sehari atau dua hari lagi setelah ia memeriksa rujukan kandidat tersebut), sewaktu kandidat tersebut tersenyum sambil meraih tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop segi empat kecil. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah disket komputer dan memegangnya dengan cara seakan-akan benda tersebut sebuah benda berharga.

“Apakah Bapak dapat menerka isi disket ini?’ Tanya sang kandidat. Rendy menggeleng, masih sambil tersenyum sangat percaya diri, sang kandidat menerangkan pada Rendy bahwa isi dari disket tersebut adalah gambaran kondisi kekuatan perusahaan pesaing (tempat kandidat tersebut dulu bekerja) yang bersifat rahasia. Di dalam disket tersebut berisi pula profil seluruh pelanggan mereka dan data biaya dan harga penawaran tender mereka di suatu departemen dimana perusahaan Rendy juga mengikuti tender tersebut. Pada akhirnya sesi wawancara mereka, sang kandidat kembali berjanji pada Rendy, bila Rendy jadi merekrut kandidat tersebut sebagai Sales, maka ia akan memberikan disket tersebut bahkan mungkin lebih banyak lagi informasi.

Sepulangnya kandidat tersebut, perasaaan yang langsung timbul pada Rendy adalah kegeraman. “bagaimana ia dapat melakukan hal itu?”, akan tetapi setelah ia dapat menenangkan diri dan berpikir lebih jernih, ia merasa bahwa kandidat tersebut sedang menawarkan suatu “harta karun” yang tak terduga dan sangat dapat menolong divisinya untuk “mendongkrak” penjualannya. Rendy pun merasa bahwa apa yang ditawarkan kendidat tersebut merupakan penawaran “sekali seumur hidup”. Akhirnya Rendy merasa bingung sendiri terhadap apa yang harus ia putuskan dan lakukan sehubungan dengan rekrutmen kandidat tersebut.

Pertanyaan untuk didiskusikan :

  1. Bila anda Rendy, apa yang akan anda putuskan dan lakukan?
  2. Apa alasan (pertimbangan-pertimbangan) dari keputusan dan tindakan anda?
  3. Apa konsekuensi atau akibat dari keputusan dan tindakan anda?
Published in: on December 6, 2009 at 1:58 pm  Comments (4)  
Tags: , , , , ,

MENCERDASKAN BANGSA !!!

Kenapa bangsa kita perlu cerdas?

Beberapa realita yang membuat kita gemas karena ketidakcerdasan (baca: kebodohan) kita adalah ketika:

  • Berbagai suku bangsa dan kerajaan-kerajaan di negeri kita dahulu diadu domba (politik devide et impera) oleh penjajah Belanda (VOC/Kompeni);
  • Beratus-ratus tahun hasil bumi kita (rempah-rempah) dibawa secara bergelombang oleh beratus-ratus (mungkin ribuan) kapal bangsa-bangsa Eropa ke negeri mereka, sementara hanya segelintir bangsa kita yang menikmatinya dengan sebagian besar tetap sengsara (dan maaf bodoh) ;
  • Bertahun-tahun IMF mendikte pemerintah kita agar tetap tidak mampu mandiri dan menjadi tuan di negerinya sendiri;
  • Perut bumi Irian/Papua dirobek lalu isinya yang berharga dibawa pergi keluar Indonesia (Amerika Serikat) dengan keuntungan yang melimpah untuk tujuh keturunan mereka, dengan hanya menyisakan sedikit dan memberikan ‘tips’ (uang kecil/receh) kepada pemerintah kita;
  • Pengiriman berjuta-juta TKI selama bertahun-tahun sebagai PRT (maaf tidak cerdas dan status tidak terhormat) di negara lain yang kemudian berakibat pada pelecehan terhadap bangsa kita secara keseluruhan.
  • Banyak orang-orang ‘cerdas’ kita (BATAN, BPPT, IPTN/DI, Garuda, sampai dengan sekarang yang terjadi terhadap Juara-Juara Olimpiade IPA) dibajak negara lain dan meraih sukses di sana memberikan devisa lebih bagi negara tersebut.
  • Kegagalan pemerintah kita bernegosiasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk memperoleh fasilitas terbaik bagi jemaah haji kita di Mekkah, Madinah dan sekitarnya. Padahal kita negara penyumbang jemaah haji terbesar (baca: devisa terbesar) bagi pemerintah Arab Saudi, namun kenyataannya fasilitas jemaah haji negara lain justru yang jauh lebih baik. Hal ini diperparah oleh pengelolaan haji kita yang cenderung masih ‘bobrok’ karena ulah oknum-oknum tertentu yang harus dibasmi
  • ‘Batik’, lagu ‘Rasa Sayange’, tari ‘Pendet’ yang jelas-jelas merupakan warisan budaya (heritage) Indonesia telah diakui oleh Malaysia sebagai milik mereka. Tapi syukurlah hal ini kemudian telah membangunkan bangsa kita dari keterlenaan dan tidur panjangnya untuk segera bersatu bahu-membahu menghadapi ‘musuh bersama’ (Malaysia, mungkin juga yang lainnya).

Apabila hal ini terus berlanjut, maka bangsa kita akan semakin terpuruk dan terus dilecehkan bangsa-bangsa lain !!!

Siapa yang bertanggung jawab?

Tidak konstruktif untuk dibicarakan.

Siapa yang berperan mencerdaskan bangsa kita?

  1. Pemerintah yang bersih
  2. Pemimpin yang bersih
  3. Aparat Pemerintah yang bersih
  4. Tenaga Ahli (orang cerdas) yang bersih
  5. Tokoh Agama yang bersih
  6. Orangtua yang bersih

Apa strategi yang digunakan?

  1. Berorientasi jangka panjang dan fokus pada generasi muda an
  2. Jadilah ‘role model’ yang teladan

Sungguh masih berat tugas kita menjaga warisan nenek moyang kita berupa negara kepulauan dengan berbagai suku bangsa (multi etnis) dan multi agama ini !!!

KITA BISA MEMBUAT ROKET?

Roket LAPAN RX-420

Di Pamengpeuk Garut ada lokasi peluncuran roket!

Roket buatan LAPAN, buatan orang Indonesia?

Alangkah sudah hebatnya orang kita…

Tapi alangkah kuper’nya aku kok baru tahu hal itu…

Apakah banyak orang-orang lain sudah tahu roket kita itu?

Dari mana orang kita belajar membuat roket?

Katanya orang kita banyak belajar ke India untuk membuat roket!

Untuk apa kita perlu bikin roket?

Katanya buat pengembangan ilmu pengetahuan, penginderaan jarak jauh, persenjataan, dan lain-lain (Wah hebat ya…)

Tapi kenapa kok kenapa Satelit PALAPA kita katanya kok masih diluncurkan oleh roket buatan negara lain?

Apakah karena ‘ilmu’ orang kita memang belum memadai, pemerintah kurang memberikan perhatian pada pengembangan ‘ilmu’ roket (keasyikan ngurus politik), atau ada kepentingan lain yang ‘tidak jelas’ (pribadi pejabat-pejabatnya!!)

Siapa sih dan bagaimana sebenarnya kondisi orang kita yang telah membuat roket itu?

Mereka adalah pegawai LAPAN yang memiliki dedikasi tinggi…

Mereka bekerja bukan karena melulu uang, karena gaji/pendapatan mereka tidak seistimewa produk yang mereka hasilkan…

Mereka bukan orang yang ingin populer dan hidup enak, karena mereka ada di lokasi yang jauh dari keramaian kota.

Mereka bekerja karena tugas negara yang belum tentu merupakan cita-cita mereka (tanyakan saja apakah mereka ingin anak mereka menjadi seperti mereka!)

Bagaimana mungkin kita mengharapkan produk unggul dari mereka yang memiliki fasilitas terbatas/minim!

Mereka memang membutuhkan perhatian lebih…

Pemerintah perlu memberi perhatian lebih pada pengembangan roket…

Pemerintah perlu memberi perhatian pada ilmu pengetahuan lebih daripada bidang lain…

Agar generasi bangsa kita ke depan tidak selalu berada di belakang bangsa-bangsa lain…

Published in: on December 5, 2009 at 4:59 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , , , ,

PEMIMPIN BERJIWA KSATRIA

Suksesi Soekarno ke Soeharto

Sikap ksatria dapat diukur dari sejauh mana ia rela mengorbankan kepentingan diri sendiri, keluarga dan golongannya demi kepentingan masyarakat yang luas. Sikap ksatria juga dapat diukur dari sejauh mana ia memikirkan dan menomor-satukan kepentingan masyarakat melampaui kepentingan diri sendiri.

Pemimpin yang mempunyai sikap dan jiwa ksatria kini makin langka. Pemimpin di negeri ini sekarang tidak segan-segan mengutamakan kepentingan sendiri, keluarga dan golongannya, tanpa rasa risi. Bahkan ia dapat melakukan semua itu dengan dalih mempertahankan dan membela kebenaran. Oleh karena itu, di negeri ini sekarang terjadi perpecahan antar umat beragama, antar aliran agama, antar kampung dan warga, antar partai politik dan bahkan antar aparat keamanan. Pesimisme menghinggapi masyarakat Indonesia saat ini. Mereka menunggu dan mencari pemimpin yang dapat menjadi pengayom dan pejuang harkat hidup masyarakat yang telah tersungkur di batas titik nadir. Sungguh sangat memprihatinkan. Sepertinya sulit untuk mencari pemimpin yang kita idamkan.

Bung Karno telah membuktikan diri sebagai ksatria yang pernah dimiliki bangsa ini. Di tengah konflik antar kekuatan politik dan militer di tahun 1965, Bung Karno memilih menanggung segala kekerasan politis, psikologis, bahkan fisik yang menimpa dirinya seorang diri. Dia lebih mencintai kehidupan seluruh bangsa Indonesia daripada dirinya sendiri. Sebagai pemimpin kharismatik, tentu Bung Karno memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa yang mendukung atau bersimpati kepadanya untuk melawan kekuatan politik dan militer yang menghimpitnya.

Namun, Bung Karno benar-benar memilih menanggung segala kekerasan yang menimpanya seorang diri, bahkan sampai ia wafatdalam kesendirian yang sangat sepi. Bung Karno adalah pemimpin ksatria. Dia tidak ingin mengorbankan kesatuan bangsa Indonesia hanya untuk ambisi pribadi. Dia tidak ingin bangsa Indonesia terpecah belah karena sebagian dari rakyat Indonesia yang mendukung dan bersimpati kepadanya berhadap-hadapan dengan sebagian dari rakyat Indonesia yang melawannya.

(Sumber: Soekarno di Mata Bangsanya, Galang Press)

Published in: on December 1, 2009 at 11:06 am  Leave a Comment  
Tags: , , , ,