LUPA DAN AL-QURAN

Lupa di Otak

LUPA DAN AL-QURAN

Diantara problem yang dihadapi manusia ialah seringnya lupa. Ini, kadang-kadang menimbulkan akibat yang buruk baginya dan seringkali menghalanginya dalam mempersiapkan diri guna menghadapi problem-problem kehidupan. Lupa banyak dikemukakan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Apabila ayat-ayat itu ditelaah dan dikaji pengertian yang terkandung di dalamnya, maka akan tampak bagi kita bahwa lupa yang terdapat dalam ayat-ayat itu mempunyai berbagai pengertian yang bisa diikhtisarkan sebagai berikut:

a. Lupa yang terjadi pada benak mengenai berbagai peristiwa, nama seseorang, dan informasi yang diperoleh seseorang sebelumnya.

Ini merupakan lupa normal yang menimpa seseorang akibat bertimbun dan berjalinnya informasi-informasi yang ada. Jenis lupa ini telah dikaji oleh para ahli ilmu jiwa dengan secara mendalam dan menurut mereka lupa ini terjasi akibat interferensi informasi. Mereka mengklasifikasikan interferensi menjadi dua jenis: “interferensi retroaktif” dan “interferensi lanjut”. Interferensi retroaktif terjadi ketika kita belajar materi-materi baru yang membuat melemahnya ingatan kita akan materi-materi yang telah kita pelajari sebelumnya. Interferensi lanjut terjadi akibat pengaruh kebiasaan, kegiatan, dan informasi lama kita dalam mengingat materi yang baru kita pelajari. Banyaknya informasi dan kegiatan sebelumnya membuat sulitnya kita untuk mengingat materi yang kita pelajari belakangan. Sementara ingatan kita terhadap materi baru itu akan lebih baik apabila informasi dan kegiatan kita lebih sedikit. Oleh karena itu, anak-anak lebih mampu untuk mengingat detail-detail berbagai peristiwa pada masa lalu ketimbang orang dewasa. Dalam al-Qur’an, jenis lupa ini diisyaratkan dalam firman Allah:

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepdamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” (QS, al-A’la, 87:6).

b. Lupa yang mengandung makna lalai.

Misalnya seseorang meninggalkan sesuatu di suatu tempat. Atau ia hendak berbincang-bincang dengan seseorang tentang berbagai hal, namun ia hanya ingat sebagiannya dan lupa sebagian lainnya, dan baru ingat kemudiannya. Sebagai contoh, ialah kisah tentang murid Musa as dalam firman-Nya:

“Muridnya menjawab:“Tahukan kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali” (QS, Al-Kahfi, 18:63)

Contoh lainnya ialah ucapan Musa as pada hamba Allah yang shaleh:

“…Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku…” (QS, al-Kahfi, 18:73).

Jenis lupa ini bisa diinterpretasikan sebagai interferensi lanjut yang telah dikemukakan dimuka.

c. Lupa dengan pengertian hilangnya perhatian terhadap sesuatu hal.

Contohnya ialah apa yang terkandung dalam firman Allah berikut:

“…Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka…” (QS, at-Taubah, 9:67).

Pengertian “mereka telah lupa kepada Allah” ialah mereka meninggalkan ketaatan kepada-Nya akibat hilangnya perhatian mereka kepada perintah-perintah-Nya. Dan pengertian “maka Allah melupakan mereka” ialah Allah mengalihkan karunia-Nya dari mereka dan menterlantarkan mereka.

Contoh lain dari jenis lupa ini ialah apa yang terkandung dalam firman Allah yang berikut:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri…” (QS, al-Hasyr, 59:19).

Masuk dalam pengertian ini adalah lupa yang diatributkan pada Adam as dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat” (QS, Thaha, 20:115).

Ini mengandung arti bahwa Adam as “telah lalai tentang perjanjian dengan Allah”. Akibatnya, ia pun lupa akan larangan Allah. Maka, syetan pun menggodanya dan menjerumuskannya dalam kesalahan.

LUPA DAN SYETAN

Menurut sebagian ayat al-Qur’an, syetan melihat bakat manusia untuk lupa sebagai jalan untuk mempengaruhinya. Bakat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal penting yang bermanfaat bagi dirinya. Pun kadang-kadang membuatnya lalai akan Allah dan mengabaikan perintah-perintah-Nya. Di muka telah dikemukakan, dalam uraian tentang lupa yang timbul dari kelalaian, ayat yang mengemukakan tentang murid Musa as yang lupa akan ikannya dan berkata: “dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan”. Sebagai contoh lainnya adalah ayat-ayat berikut:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah adanya peringatan (kepadamu)”. (QS, al-An’am, 6:68).

“Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi” (QS, al-Mujadalah, 58:19).

“Dan yusuf berkata kepada orang yang diperkirakannya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syetan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (QS, Yusuf, 12:42).

Cara syetan menggoda manusia dan mendorongnya lupa akan Allah, dan akan kebaikan dan kemanfaatan bagi dirinya pada umumnya, adalah dengan mempengaruhi dorongan dan hawa nafsunya. Ini memang merupakan titik kelemahan manusia. Sebab, secara alamiah manusia cenderung untuk memenuhi dorongan-dorongannya dan merasakan kelezatan dan kenikmatan. Dari aspek inilah Iblis berhasil menggoda Adam as. Iblis menawarkan kepadanya keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa, apabila ia mau makan buah pohon larangan. Ini membuat Adam lupa akan larangan Allah dan terjerumus dalam kesalahan. Dengan cara yang sama, syetan mempengaruhi semua manusia ketika pada diri mereka dibangkitkannya hawa nafsu mereka yang membuat mereka terjerat olehnya dan lalai akan Allah:

“dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing: jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)…” (QS, al-A’raf, 7:175-176).

TERAPI LUPA DALAM AL-QUR’AN

Terapi lupa yang timbul akibat kelalaian akan Allah adalah dengan ingat terus-menerus akan Dia, nikmat dan karunia-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ciptaan-ciptaan-Nya, akhirat, dan hari perhitungan. Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan pentingnya ingat pada Allah sebagai terapi bagi jenis lupa ini. Ini tampak jelas dari firman-Nya:

“…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…” (QS, al-Kahfi, 18:24).

Lebih jauh lagi, al-Qur’an memuji orang-orang beriman yang selalu ingat akan Allah. Dan mereka ini diberi atribut sebagai orang-orang yang berakal:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS, Ali Imran, 3:190-191).

Oleh karena ingat Allah merupakan terapi bagi lupa dan kelalaiannya hati, maka Allah memerintahkan kita untuk banyak mengingat-Nya, baik siang maupun malam, pagi dan sore:

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (qs, al-Ahzab, 33:41-42).

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS, an-Nisa‘, 4:103).

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS, aal-Jum’ah, 62:10)

Terapi kelupaan manusia akan Allah dan kelalainnya akan akhirat, dengan demikian, adalah dengan cara ingat akan Allah secara terus-menerus. Sehingga Allah hadir dalam hatinya secara terus-menerus, sekejappun tidak pernah hilang. Ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip belajar, yang telah dikemukakan di muka, yaitu pengulangan. Pengulangan ingat akan Allah biasanya akan membentuk kebiasaan bagi seseorang untuk selalu ingat dan memuji Allah. Sehingga kebiasaan inipun menjadi mapan dan terpancang kuat dalam tingkah lakunya dan setiap saat selalu timbul tanpa upaya apapun. Allah pun, dengan demikian, menjadi selalu hadir dalam kalbunya. Ini adalah keadaan yang ingin diusahakan tercapainya oleh para sufi, dengan jalan mengulang-ulang latihan dan riadhah rohaniah.

Karena al-Qur’an adalah kitab aqidah, dan bukannya tentang ilmu pengetahuan, maka wajarlah bila ia menaruh perhatian terhadap problem kelupaan dan kelalaian manusia akan Allah dan akhirat, juga kepada terapinya. Sebab hal ini penting bagi kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun akhirat. Apabila prinsip yang dipakai untuk terapi jenis lupa ini adalah dengan pengulangan ingat akan Allah, hingga kebiasaan ini menjadi mapan dan terpancang kuat pada tingkah laku seseorang, maka dari sini dapat pula kita ikhtisarkan terapi bagi kelupaan kita yang biasa tentang informasi-informasi dan data-data, yang bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis seperti telah dikemukakan di muka. Terapi yang dipakai ialah dengan mengulang-ulang informasi dan data itu. Dengan kata lain dengan menelaah dan mempelajarinya berkali-kali. Ini merupakan hal yang telah dibahas oleh para ahli ilmu jiwa modern, namun perhatian mereka baru terbatas pada pengkajian dua jenis lupa yang telah disebutkan di atas saja dan mereka tidak berusaha mengadakan pengkajian terhadap jenis ketiga yang terdapat di dalam al-Qur’an seperti yang telah diuraikan di atas.

(Sumber: Al-Quran dan Ilmu Jiwa)

Published in: on December 9, 2009 at 10:05 am  Leave a Comment  
Tags: , , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://hirzithariqi.wordpress.com/2009/12/09/lupa-dan-al-quran/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: