CORETAN 1984-1985

Menyusuri Masa Lalu

Menyusuri Masa Lalu

SELAMAT TINGGAL

Selamat tinggal Ancol, taman impian

Aku kan berangkat ke TMII

Melalui Taman Ismail Marzuki

Walau kereta belum jua berangkat

Tapi peluit telah berbunyi

Jiwaku telah siap berangkat

Mantap laju keretaku, kelak

Sesekali dengan pekik keoptimisan

Tak ada yang mampu menghalangiku

Bagi keangkuhan

Sebuah titik merupakan kehancuran

Manusia dina akan hancur

MEMATUNG

Dunia sempit

Kusut, kusam, huh …

Aku tetap mematung

Padahal berjuta orang telah berlalu

Di hadapanku

DIMANA TEMPATKU

Antara ambisi besarku dan kemampuan

Antara gadis-gadis yang riang dan gadis-gadis yang berbusana muslimah

Antara makan di kantin dan kepala pusing menahan lapar

Antara membeli buku referensi buku asli dan fotokopi lima belas perak

Antara kuliah naik mobil dan gemetarnya lutut menunggu bus 210

Antara riuhnya gelak tawa dan kesendirian yang menikam diri

Antara alunan musik dan detak-detak bola pingpong di Lobby

Antara berorganisasi di SM dan mata kuyu badan bungkuk karena belajar

Antara seorang manajer personalia dan seorang guru bimbingan penyuluhan

Antara kelembutan cinta dan tegarnya hati

Antara mesjid dan mushala kampus

Terakhir inilah barangkali tempatku

DIPOMPA

Balon kehidupan ini perlu dipompa dengan suasana riang

Wajah-wajah riang adalah sebagian dari wajah surga

BUAT AYAH TERCINTA

Sesungguhnya orang yang mati di jalan Allah itu tidak mati,

tetapi tetap hidup di sisi Allah

Kita menunggu gilirannya dan akan kembali kepada Allah

Bapak …

Engkau pasti tahu apa yang aku rasakan

Dan apa yang aku pikirkan tentang engkau

Aku ingin menjadi anak yang shaleh

Jaminan ketenangan engkau di sana

Walau telah seratus hari engkau pergi

Semoga jalanmu semakin terang Bapak …

IKHLAS

Tuhan kami, Allah yang kuasa

Meski duka menyuruk di perpisahan

Namun ikhlas jua hati kami

Atas segala taqdir dan qadarMu

Terimalah kembali

Berilah tempat yang terbaik, dan …

Ampuni segala khilaf Ayahanda kami

Semasa hidup bersisian dengan kami

Sesungguhnya Engkau Allah ya Karim

Maha bijak dalam segala kehendak

MASIH KECEWA

Semacam kekecewaan

Panas merayapi dadaku

Kerut dahiku mulai terasa menaik

Kutahan ekspresiku tetap stabil

Itulah nyatanya jiwaku

Belum mengerti permasalahan

Harusnya aku sudah pasrah

Bila ia bisa bahagia

Bahagia menurut versinya

Aku tidak boleh jatuh

Jatuh berarti akan luka

Tetapi aku harus

Pasrah–tenang–sabar

Pasrah – tenang – sabar

P a s r a h – t e n a n g – s a b a r

Sssssssaaaaaaabbbbbbbaaaaaaarrrrrrr

KAPAN BERUBAH

Ooooouuuuuh……

Sebel sekali aku

Kok jadi begini

Kapan sih ada perubahan pada sikapku

Padahal sudah 21 tahun berlalu

Tanpa tokoh ayah

LEMAH

Kamu itu kecil dan lemah

Bila Dia beri malapetaka

Terkadang kamu frustrasi

Kamu hanya sebagai hamba yang diutus

Terlalu lemah mengusir frustrasi

Kecuali kamu laporkan kepada pemilikMu

Pemilik dari segala pemilik

INGIN DEWASA

Oh kedewasaan…

Oh kebahagiaan…

Oh kesungguhan…

Sambutlah dan rangkulah daku

Terimalah aku

Padukan dalam diriku

Sehingga aku menjadi dewasa

KENANGAN DUA TAHUN LALU

Tak ingin kuangankan menggapai awan

Walaupun angin bertiup tak tentu arah

Aku tak ingin tercampak

Kenangan masa lalu itu membuatku haru

Dan sekaligus menggelikan

Aku terkenang 29 Desember dua tahun lalu

ENGKAU MENDERITA AYAH

Engkau menderita, tak berdaya

Pandangan hampa, haru dan muram …

Engkau membuatku serba pesimistis

Namun kadang engkau keras bagai baja

Aku patuh yang menjengkelkan

Aku tak habis mengerti juga Ayah …

GADIS DAN SENYUMNYA

Gadis itu tersenyum

Berlari ke pantai tinggalkan jejak di pasir

dan kaki indah di pelupuk mata

Ah… deburan ombak menghalangi pandangan

Akan kulihat dengan keker

Wow… riangnya gadis itu

Hmm… seksinya dia dengan gayanya itu

Hei… kau jangan ganggu aku kawan

Apa… aku kehabisan sarapan pagi

Ah… rasanya sudah kenyang kok

Kulihat pemandangan indah ini dulu

Hah… kemana gadis itu

Nah ini dia… eh… kok kembali ke pantai

Sudah capek barangkali dia

Lho… kok menuju kemari

(kulepas keker) Amboi begitu indah…

tak terlukiskan tubuhnya dari dekat

Hai… dia menyapa sambil tersenyum

Hmm… apa ini, dia duduk di sampingku

Lho kok jadi begini…

Aku harus bagaimana nih…

KERIAAN DARI ANYER

Keraguan selalu muncul di mana-mana

Sepi juga kutemui di mana-mana

Shalat jumat pun belum mampu membawaku

Pada keriaan yang kudamba

Pantai Anyer nan jauh di sana

Kau goreskan keriaan dan kenangan

Tak terlupakan itu

Terima kasih padamu Anyer

INGIN KEMBALI BEBAS

Aku tak ingin kehilangan dia, dan

Aku tak ingin mencintai dia

Aku ingin hubunganku tetap seperti sekarang, bersahabat

Kubunuh cintaku padanya

Kubiarkan lalu kubunuh lagi

Rasionalisasi demi rasionalisasi

Gejolak ini membuatku lelah

Hubungan ini terancam punah

Sebuah batu besar ada diantara kami

Aku gusar, semangatku goyah

Senyum gadis yang pernah kulupa

Menyejukkan hati yang panas

Hatiku kembali kokoh dan tegar

RESAH

Mataku tak percaya

Badanku dilanda demam

Kepalaku ikut berputar

Pikiranku melayang-layang

Dalam tidur yang resah

Akibat pengakuan yang tidak sah

(Jakarta, 1984)

The URI to TrackBack this entry is: https://hirzithariqi.wordpress.com/2009/11/05/coretan-1984-1985/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: