KASUS STRES SAUDARA NSH

Stres dan Sedih

Stres dan Sedih

ILUSTRASI KASUS

NSH adalah seorang pria berusia 43 tahun, berpendidikan SLTA, bersuku bangsa Sunda dari ayah maupun ibu namun ia lahir dan besar di Jakarta. Ia beragama Islam dan saat ini bermukim di kota Serang, Banten.

NSH memiliki isteri bernama NM berusia 34 tahun, berpendidikan SLTA, berstatus Ibu Rumah Tangga meskipun sebelumnya pernah bekerja. NSH dan NM dikaruniai tiga orang anak, yaitu AN anak pertama, berusia 14 tahun, pelajar SLTP. Anak kedua bernama JK, berusia 12 tahun, pelajar SD. Anak ketiga bernama AD, berusia 3 tahun dan belum bersekolah.

NSH sudah tidak memiliki orangtua lagi, ayahnya RM telah meninggal dunia 10 tahun lalu dalam usia 85 tahun dan ibunya SM juga telah meninggal 5 tahun yang lalu dalam usia 80 tahun. Adik kandung satu-satunya yang merupakan adik kembarnya bernama DD telah meninggal dunia ketika berusia 3 tahun.

NSH menempuh pendidikan di SD swasta Islam di bilangan Jakarta Selatan, tahun 1971-1977; SMP swasta nasional di Jakarta Selatan tahun, 1979-1982; dan SMA swasta Islam di Jakarta Selatan, tahun 1982-1985.

Pada tahun 1978 s/d 1979, NSH bekerja di PT. JS di salah satu RS Pemerintah di Jakarta Pusat, sebagai Cleaning Service. Kemudian pada tahun 1979-1982, ia bekerja di PT. HS di kawasan Tebet Jakarta Selatan, sebagai Cleaning Service. Setelah tidak memiliki pekerjaan tetap selama sekitar 5 tahun, kemudian pada tahun 1987 s/d 1990 ia bekerja di PT. CS di bilangan Ciputat Jakarta Selatan, sebagai Pengawas Cleaning Service. Kemudian ia tidak memiliki pekerjaan tetap sekitar 3 tahun. Pada tahun 1993 s/d 1995, ia bekerja sebagai supir pribadi di rumah seorang dokter (ayah salah satu dokter terkenal di Jakarta) yang tinggal di Menteng Jakarta Pusat. Di bawah ini adalah kisah mengenai stress yang dialaminya sebagaimana yang diceritakan kepada penulis.

Dengan membaca basmalah – saya uraikan riwayat hidup sejak kecil saya mengalami trauma, keluarga saya termasuk keluarga yang kurang harmonis, dengan kata lain keluarga yang ‘broken-home’. Sejak kecil saya hidup serba kekurangan baik moril maupun materil. Saya menjalani itu semua dengan keprihatinan dan kesabaran, memang terkadang juga labil. Untungnya dan saya bersyukur, dulu saya pernah sedikit belajar ngaji dengan nenek dari bapak dan saya sering ikut pula kegiatan remaja Islam di mesjid-mesjid.

Sekarang saya sudah berumah tangga dan dikaruniai tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak yang paling besar bersekolah di SMP Negeri di Serang. Senang dan bangga mempunyai anak yang pintar di sekolah. Tapi sedihnya apabila sang anak membutuhkan biaya sekolah (kebutuhan) mendadak, sedangkan saya menganggur, paling-paling cuma bisa mengurut dada, dan batinpun berguncang, menjerit dan menangis.

Selama ini istri saya terus menerus mendesak saya mencari pekerjaan. Hal ini membuat saya mumet tujuh keliling. Coba pikir siapa orang yang tidak ingin membahagiakan keluarganya. Andaikata saya normal seperti dulu tak punya  penyakit hernia (burut) mungkin saya sudah bekerja apa saja, narik becak atau jadi kuli di pasar, yang penting menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarga. Masalahnya adalah untuk kerja berat saat ini saya sudah tidak bisa.

Sambil menunggui warung mertua, ditengah malam saya sering merenungi nasib. Bagaimana masa depan anak-anak dan rumah tanggaku kelak. Sekarang saja, bulan Juli mendatang kontrak rumah harus dibayar. Listrik, PAM dan SPP anak tertua sudah 2 bulan belum dibayar. Hal-hal itu membuat aku stress (depresi). Staminaku yang mulai menurun dan kadang aku mudah sakit-sakitan.

Dulu ketika kami sekeluarga tinggal di Ciamis, isteriku membantu usaha ibunya di pasar Ciamis yaitu berjualan soto ayam. Beberapa tahun kemudian, ibu mertuaku menyuruh meneruskan jualannya, karena ibu mertuaku mau merantau ke Serang. Aku disuruh cari modal buat ibu mertuaku, dan dapat Rp. 250.000,- pinjam dari ibu Een. Terus ibu mertuaku pergi ke Serang Banten untuk berdagang di sana. Isteriku meneruskan usaha ibunya di Ciamis. Sedangkan aku bekerja narik mikrolet di Jakarta dan pulang ke Ciamis 1-2 bulan sekali. Cuma aku tak habis pikir, ibu mertuaku ninggalkan hutang di koperasi Rp. 300.000,-. Jadi kalau kupikir usaha isteriku cuma buat bayarin hutang ibunya. Setelah 3 tahun, usaha jualan soto yang dijalani istriku berangsur-angsur menurun omzetnya. Kemudian aku pun berhenti jadi supir untuk membantu usaha istriku, namun usaha tidak kunjung membaik. Ibu mertuaku akhirnya mengajak kami pindah ke Serang. Tapi sebelum berangkat disuruh cari modal buat dagang. Dengan susah payah aku dapat uang Rp. 300.000,-. Kami mengontrak rumah di Serang sampai sekarang. Selama menjalani kehidupan di Serang-Banten, kumulai dari nol lagi. Awalnya aku mulai berjualan nasi di tempat ibu mertua. Isteriku dan ibunya mendapat bagian siang sedangkan aku bagian malam, karena kami berjualan siang dan malam.

Dua tahun kemudian tempat itu dikasih oleh ibu mertua kepada aku dan isteri, sedangkan ibu mertuaku menyewa tempat tak jauh dari tempat yang lama. Kurasakan kepedihan, keprihatinan selama berjualan, karena warung terbuat dari tenda sederhana, tidak ada listrik, kalau hujan kehujanan, bila ada angin kencang sampai-sampai aku pegangi tenda supaya tidak roboh.

Beberapa tahun kemudian usaha kami ada kemajuan, aku dapat uang hasil warisan orangtua, sebagian untuk membayar hutang dan sebagian untuk membuat warung dan tambahan modal. Sedikit demi sedikit warungku ada kemajuan. Setelah berjalan setahun, rupanya ada orang yang tidak ingin kami maju (maaf bukan su’uzon, tapi ini nyata). Singkat cerita kami kehabisan modal dan dagangan kami sepi pembeli. Mungkin orang modern tidak percaya sebelum mereka mengalami sendiri. Warung tempat kami berjualan ada yang mau merebut. Hampir saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bila istriku tidak mencegahku. Akhirnya dengan musyawarah RT/RW setempat warung itu dibayar Rp. 250.000,-. Aku mengalah… aku istighfar… biarlah nanti Tuhan yang akan membalasnya.

Setelah lahir anak ketiga, aku kembali ke profesi lama narik angkot di Serang. Alhamdulillah aku menjalaninya dengan senang hati dan yang penting keluargaku tidak kelaparan dan kehujanan serta kepanasan, walaupun pendapatan jadi supir angkot jurusan Serang Kota hanya pas-pasan. Aku tak bisa berpisah lama-lama dengan anakku yang ketiga karena cuma dia yang sempat aku tunggui saat kelahirannya. Aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku pada anak-anakku. Tapi kenapa yang satu ini lain dari yang lain, mungkin karena dia masih kecil baru berumur 2,5 tahun.

Tahun 2005, BBM naik, mulailah datang cobaan lagi, narik angkot mulai sepi dan setoran tak terkejar. Banyak pengusaha mobil angkot yang gulung tikar termasuk tempat aku bekerja. Semua mobilnya dilelang, banyak yang menganggur termasuk aku. Terpaksa aku membantu lagi ibu mertuaku berjualan pada malam hari. Aku bersyukur ibu mertuaku mau membantu biaya sekolah anak-anakku dan makan kami. Aku malu, sedih rasanya, aku ingin mati saja (mungkin saat itu aku sedang berputus asa). Untung masih ada seorang sepupuku yang sering membantuku baik itu secara moril maupun spiritual. Jasa-jasanya tak pernah aku lupakan. Aku Cuma dapat berdoa semoga amal-amalmu diterima Allah dan diberikan berkah olehnya, amin.

Hal yang yang juga membuat aku stress adalah aku tidak suka pada isteriku dan ibu mertuaku yang masih suka egois. Kalau mereka sedang sakit, aku sangat perhatian sekali, tapi bila aku sakit, boro-boro dipijitin, ditengok juga tidak ditanya juga tidak. Aku suka jadi sedih, prihatin dan kesal. Sekarang saja begini, bagaimana kalo nanti aku sudah payah atau tua.

Sakit herniaku sering kambuh namun tahun berganti tahun tak kurasakan, ternyata penyakitku semakin parah. Untuk sembuh harus dioperasi tapi biayanya mahal. Aku coba berobat ke tukang urut, sampai sekarang bertambah parah dengan usiaku yang semakin bertambah dan staminaku yang semakin menurun. Kemungkinan disebabkan atau efek dari penyakit yang saya derita dan ditambah pikiran yang kalut (ruwet). Memang tidak semua orang tahu apa-apa yang saya rasakan. Mungkin kebanyakan orang melihat dari luarnya saja, tapi tidak dari dalamnya.

Suatu hal yang rahasia, masalah hubungan suami-isteri, sudah tiga bulan tidak harmonis. Dengan kata lain tiga bulan pisah ranjang. Di luar biasa-biasa aja, tapi di dalam, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya. Mudah-mudahan saya bisa kontrol emosi dan dikuatkan iman. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menjaga keimanan dan ketaqwaan saya pada Allah, yang saya rasakan ada kemajuan. Saya mohon bantuan untuk berbuat yang terbaik. Apa-apa yang kita harapkan belum tentu kita gapai atau terwujud. Begitu pula sebaliknya. Apa-apa yang kita tak kehendaki bisa terjadi. Kita hanya manusia biasa yang cuma bisa berusaha dan berdoa untuk mewujudkan sesuatu yang kita kehendaki, akan tetapi Tuhan juga yang menentukan. Saya berusaha menghibur diri dengan jalan apapun.

Aku sadar dengan keadaanku ini, keadaan vakum tidak mempunyai pekerjaan alias menganggur ditambah lagi mempunyai penyakit hernia (turun bero) yang tidak boleh dianggap ringan. Bila lama-lama didiamkan akan berbahaya. Kalu sedang kumat badanku panas dingin (meriang), badan pegal-pegal, dan kepala pening. Bagaimana orang mau ngasih pekerjaan kalau kondisi kesehatanku begini. Sebetulnya aku malu sekali kalau dikasih sesuatu apalagi meminta bantuan orang lain. Tapi dengan keadaanku begini yach terpaksa aku lakukan, tapi dengan tidak melanggar hukum.

Hampir seminggu ini aku tinggal di Jakarta. Tujuannya silaturahmi sambil mencari-cari pekerjaan meskipun sebenarnya aku mempunyai masalah yang sangat pelik yang membuat aku stress. Aku Cuma dapat berdoa pada Tuhan serta berharap sedikit bantuan seikhlasnya dari saudara-saudaraku di Jakarta, dengan kemurahan hati mereka semoga dapat memberi sedikit solusi bagi masalah yang aku hadapi. Sekarang ini aku ingin kembali ke Serang. Saya tutup cerita ini dengan membaca hamdallah…..

(Jakarta, 22 Mei 2006)

Published in: on November 3, 2009 at 6:17 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://hirzithariqi.wordpress.com/2009/11/03/kasus-stres-saudara-nsh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: